Teori Tentang Fakta Tidak Bisa Diuji Dengan Data Opini

PELAJARAN 94
TEORI TENTANG FAKTA TIDAK BISA DIUJI DENGAN DATA OPINI

Oleh Hanif Nurcholis
Pembelajar Filsafat Sains dan Logika/Mantiq

Dapatkah Teori Diuji dengan Data Opini?

Pertanyaan dasarnya begini:

Apakah teori bisa diuji dengan data opini responden?

Jawabannya: tergantung apa yang sebenarnya dibahas oleh teori itu.


  1. Kalau Teorinya tentang Opini, Ya Bisa

Kalau teori membahas hal-hal seperti:

  • sikap
  • persepsi
  • kepuasan
  • kepercayaan
  • motivasi
  • niat atau preferensi

maka data opini memang cocok dipakai.

Contohnya ada teori:

«Semakin tinggi kepercayaan warga kepada pemerintah, semakin tinggi kesediaan mereka menaati kebijakan.»

Di sini, “kepercayaan” dan “kesediaan” adalah fakta psikologis. Jadi wajar kalau diukur pakai kuesioner psikometri, misalnya skala Likert.

Perlu diingat ya:

  • yang diukur adalah persepsi, bukan perilaku nyata
  • yang dianalisis adalah hubungan antar skor persepsi responden yang ada di kepalanya bukan kejadian empirik di dunia nyata.

Karena itu, kesimpulannya harus hati-hati, misalnya:

«Skor kepercayaan berhubungan dengan skor kesediaan menaati kebijakan.» ini sah.

Bukan:

«Kepercayaan menyebabkan warga benar-benar menaati kebijakan.» Nah, ini logical fallacy non sequitur.

Karena orang/responden bisa saja ngisi “sangat setuju dan setuju menaati”, tapi belum tentu benar-benar menaati di dunia nyata/lapangan.


  1. Kalau Teorinya tentang Fakta, Tidak Bisa Pakai Opini

Masalah muncul kalau teori membahas realitas objektif, tapi datanya hanya opini.

Misalnya teori:

«Kepemimpinan kepala dinas meningkatkan produktivitas organisasi.»

Ini berarti ada dua hal yang benar-benar nyata:

  • kepemimpinan yang benar-benar dilakukan.
  • produktivitas yang benar-benar berubah.

Karena itu, data yang dipakai ya harus data nyata, seperti:

  • jumlah pekerjaan selesai
  • waktu pelayanan
  • tingkat kesalahan
  • perubahan prosedur
  • output sebelum dan sesudah

Tapi anehnya peneliti kuantitatif bikin kuesioner begini:

«“Atasan saya memberi arahan jelas”
“Saya bekerja dengan baik”»

Kalau begitu, yang sebenarnya diuji adalah:

«hubungan antara persepsi kepemimpinan dan persepsi kinerja»

Bukan hubungan antara kepemimpinan nyata dan produktivitas nyata.


  1. Tiga Tingkatan yang Harus Dibedakan

Agar tidak salah paham, ada tiga level penting:

a. Fakta objektif

Kejadian nyata yang bisa diukur.

Contoh:

  • 500 dokumen selesai
  • pelayanan 30 menit
  • 80% anggaran terserap

b. Persepsi tentang fakta

Cara orang menilai fakta tersebut dalam konstruk psikologisnya secara subyektif.

Contoh:

  • pelayanan dianggap cepat
  • atasan dianggap tegas
  • sistem dianggap adil.
    Ini semua persepsi responden terhadap fakta di luar dirinya. Tentu sangat subyektif.

c. Jawaban kuesioner

Ini hanya respons responden terhadap frasa yang dibaca, yang dipengaruhi banyak hal:

  • mood
  • ingatan
  • rasa takut
  • keinginan terlihat baik
  • hubungan dengan atasan
  • cara pertanyaan disusun

Jadi, jawaban responden sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju pada kuesioner bukan fakta empirik di dunia nyata tapi hasil proses psikologisnya. Makanya kuesioner begini disebut kuesioner psikometri.


  1. Jangan Salah Menarik Kesimpulan

Aturan pentingnya sederhana:

  • data persepsi → kesimpulan juga persepsi
  • data sikap → kesimpulan ya harus sikap
  • data perilaku → baru boleh bicara perilaku

Contoh yang benar:

«Persepsi tentang kepemimpinan berhubungan dengan persepsi tentang kinerja.»

Contoh yang keliru:

«Kepemimpinan mempengaruhi kinerja organisasi.»

Kalau datanya hanya opini, maka terjadi lompatan dari:

«opini tentang fakta → seolah-olah fakta itu sendiri»


  1. Bisa Terjadi Korelasi Palsu

Kalau X dan Y:

  • diisi orang yang sama
  • diukur dengan kuesioner yang sama
  • di waktu yang sama

maka bisa muncul korelasi semu (common method bias).

Misalnya:

  • orang yang optimis memberi nilai tinggi di semua pertanyaan
  • orang yang kecewa memberi nilai rendah di semua hal

Akhirnya X dan Y terlihat berhubungan, padahal hanya efek cara menjawab, bukan hubungan nyata.


  1. Data Opini Tetap Sah, Tapi Harus Tepat Gunanya

Data opini tetap ilmiah kalau:

  • memang mengukur sikap atau persepsi
  • instrumennya jelas.
  • interpretasinya tidak berlebihan.

Contoh:

Survei kepuasan atas pelayanan memang bisa mengukur kepuasan.

Tapi tidak otomatis berarti:

  • pelayanan cepat
  • pelayanan murah
  • pelayanan bebas masalah

Untuk menyimpulkan seperti itu tetap perlu data objektif.


  1. Prinsip Sederhana Pengujian Teori
  • teori tentang opini → pakai opini
  • teori tentang sikap → pakai sikap
  • teori tentang perilaku → pakai perilaku
  • teori tentang kinerja → pakai data kinerja

Jangan dicampur sembarangan.


  1. Rumusan yang Lebih Tepat

Kalau pakai data persepsi, gunakan kuesioner psikometri. Lalu simpulkan persepsi.

Karena itu, tidak tepat membuat kesimpulan begini:

«Kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja pegawai»

Yang tepat:

«Persepsi pegawai tentang kepemimpinan berhubungan dengan penilaian mereka terhadap kinerja»

Contoh lain:

Tidak sah:

«Kualitas pelayanan meningkatkan kepercayaan masyarakat»

Yang tepat:

«Persepsi responden tentang kualitas pelayanan berhubungan dengan persepsi responden tentang kepercayaan masyarakat»

Memang terdengar lebih “lemah”, tapi secara ilmiah lebih jujur.


  1. Kesimpulan Utama

Jadi, apakah teori bisa diuji dengan data opini?

Jawabannya:

  • Bisa, kalau teorinya memang tentang opini atau psikologi.
  • Tidak bisa, kalau teorinya tentang fakta nyata.

Masalah utamanya bukan pada data opini, tapi pada kesalahan menyimpulkan.

Karena sering terjadi:

  • yang ditanya = opini
  • yang diukur = opini
  • tapi yang disimpulkan = fakta nyata

Di situlah letak logical fallacynya peneliti kuantitatif di Indonnesia.

Sumber: https://www.facebook.com/share/p/1AGpEB7S6t/

Avatar photo

Makpi Support

Articles: 1031

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *