EKONOMI
Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berlanjut hari ini, meskipun tidak separah Jumat lalu yang anjlok tajam sampai 11,57%, gara-gara rilis pernyataan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan men-downgrade bursa saham Indonesia ke status Standalone.
Pada pembukaan perdagangan hari ini IHSG melemah 4,31% ke level 4.961,87, menembus angka psikologis 5.000, dan ditutup di level 4.996 alias turun 3,64% atau 188,5 poin dari penutupan Jumat lalu di 5.185.
Sore hari ini, manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menemui MSCI. Pertemuan dilakukan secara daring lewat Zoom. Dirut BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, BEI akan meminta klarifikasi mengenai latar belakang proposal penurunan status ke Standalone Market.
Sementara, Goldman Sachs memperkirakan penghapusan pasar saham Indonesia dari indeks MSCI akan memicu arus dana keluar USD 5,6 miliar (setara Rp 100,8 triliun). Tambahan USD 2,7 miliar dana asing juga berisiko keluar jika FTSE Russell mengambil langkah serupa.
2. Utang luar negeri (ULN) Agustus mencapai USD 459,3 miliar (setara Rp 8.220,55 triliun), tertinggi sepanjang sejarah. Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, meski belum jadi alarm kebakaran, tapi sudah alarm dini yang tak boleh diabaikan. Menurut dia, persoalannya bukan rekor nominalnya tapi biaya utang yang terus meningkat ketika kemampuan penerimaan negara tidak tumbuh sepadan.
Per September 2026, pembayaran bunga utang telah mencapai Rp 444,5 triliun, sementara penerimaan pajak sebesar Rp 1.607 triliun. Artinya, sekitar Rp 28 dari setiap Rp 100 penerimaan pajak digunakan hanya untuk membayar bunga, belum termasuk pelunasan pokok utang. Menurut, Yusuf, angka ini menunjukkan ruang fiskal semakin sempit.
Biaya pembiayaan juga terus meningkat. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik dari 6,03% pada akhir 2025 menjadi 7,37% pada akhir Juli 2026. Pada saat yang sama, rasio utang pemerintah mencapai 40,75% terhadap PDB pada kuartal I-2026, sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi akhir 2025.
Yusuf juga mengingatkan, tekanan semakin meningkat jika pelemahan pasar keuangan berlanjut. Rupiah tembus Rp 18.000/USD akan memperbesar nilai pembayaran utang valas. Sentimen negatif di pasar saham juga dapat menular ke pasar SBN. Jika investor meminta imbal hasil lebih tinggi, pemerintah harus menerbitkan utang baru dengan biaya yang semakin mahal.
3. Bank Indonesia (BI) mencatat dunia usaha tetap tumbuh positif pada kuartal III-2026, meski melambat dibanding kuartal sebelumnya. Hal itu tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) seluruh Lapangan Usaha (LU) yang turun menjadi 11,46% dari 12,97% pada kuartal II-2026.
POLITIK
Hasil survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis Sabtu (17/10/2026) menunjukkan elektabilitas Presiden Prabowo tinggal 9,8% pada Oktober 2026, menurun jauh dari angka 34,9% pada November 2025. Survei itu dilakukan pada 1-10 Oktober 2026, dengan responden sebanyak 1.213 orang.
Dalam survei tersebut, terdapat pertanyaan semi terbuka tentang pilihan 24 tokoh. Hasilnya, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi di urutan teratas 35,5%, lantas di bawahnya Anies Baswedan (10,3%), Prabowo (9,8%), Gibran Rakabuming Raka 8,4%. Nama-nama lain mendapat dukungan di bawah 6%, dan yang belum menentukan pilihan sebanyak 13,9%.
Hasil survei dari Parameter Politik Indonesia (PPI), yang dirilis Minggu (18/10/2026), menunjukkan hasil yang kontras dengan SMRC. Pada poin pilihan simulasi terbuka responden disodori 20 nama tokoh, dengan hasil Prabowo meraih elektabilitas tertinggi 31,6%, yang diikuti Dedi Mulyadi (11,4%), Anies Baswedan (10,1%). Gibran Rakabuming Raka (6,9%), Ganjar Pranowo (4,4%), AHY (2,3%) dan lainnya di bawah 2%.
Survei nasional PPI dilaksanakan melalui wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden pada 26 September – 6 Oktober 2026. Dari survei itu sebanyak 65,4% responden puas atas kinerja pemerintah Presiden Prabowo.
HUKUM
Seharusnya pada Kamis lalu (15/10/2026) Menteri ATR/BPN Nusron Wahid diperiksa KPK sebagai saksi kasus suap pengurusan HGB PT Summarecon Agung Tbk dan penerimaan lainnya, tapi ia tidak hadir. Padahal ini panggilan kedua yang, yang pada panggilan pertama ia juga mangkir. Dua kali mangkir, Nusron menyebut ada urusan dinas kementeriannya.
Berdasarkan informasi yang didapat Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman, pada hari Kamis lalu Nusron seharian berada di Johor Bahru, Malaysia. Ia pergi dari Jakarta dengan pesawat menuju Batam pada Rabu (14/10/2026).
Dari Batam Nusron melanjutkan perjalanan dengan kapal menuju Singapura, dan berlanjut ke Malaysia pas hari ia seharusnya diperiksa KPK. Kemudian Nusron kembali ke Singapura pada Jumat (16/10). Selasa besok diperkirakan kembali ke Jakarta.
Menurut Boyamin, setiap bepergian dinas ke luar negeri menteri harus mendapat izin dari presiden. Ia meragukan Presiden Prabowo memberi izin Nusron ke luar negeri jika dilakukan secara mendadak. KPK juga sudah tahu Nusron pergi ke Malaysia, dan mempertimbangkan untuk melakukan jemput paksa pada pemanggilan berikutnya.
TRENDING MEDSOS
1. Sejumlah kode saham perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) masuk daftar Google Trends. Antara lain BBCA (Bank BCA), BBRI (Bank Rakyat Indonesia), dan BMRI (Bank Mandiri). Pada sesi II perdagangan hari ini, ada aksi borong terhadap saham-saham tersebut. Dikabarkan Danantara masuk pasar, mengoleksi saham-saham BUMN yang jatuh parah, dan sudah murah valuasinya.
2. “Fakta Pemadaman Batam” trending bersama tagar #FaktaBlackoutBatam di X. Warganet menyoroti penjelasan Dirut PT PLN Batam Kwin Fo mengenai temuan terkait pemadaman listrik di Kepulauan Riau. Antara lain CCTV bergeser sehari sebelum blackout, temuan hewan lemas selisih 4 jam dari awal percikan api, kawat pengaman gardu tidak bertegangan.
3. “Dua tahun Prabowo” trending di X. Topik itu juga ramai menjadi pembicaraan di media-media sosial lain, bersama-sama rencana aksi demonstrasi pada 20 Oktober 2026. Warganet menyoroti sejumlah kegagalan pemerintah selama 2 tahun berkuasa.
HIGHLIGHT
Besok, 20 Oktober 2026, tepat 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Aneka penilaian hasil kinerja sudah dirilis oleh banyak kalangan terpelajar maupun masyarakat umum. Ada yang bilang bagus, ada yang bilang jelek, ada yang bilang biasa saja.
Metode penilaian pun beragam; ada yang menggunakan parameter ilmiah, ada yang subjektif murni. Tanpa perlu ikut hasil penilaian orang atau pihak lain, kita sendiri pun bisa melakukan penilaian dengan parameter sederhana: kehidupan ekonomi pribadi dan keluarga kita membaik selama 2 tahun terakhir ini, atau biasa saja, atau malah terpuruk. Itu saja sudah cukup. ()
SUMBER
BRIEF UPDATE
Kerjasama MAKPI dengan B&S Alliance
Senin, 19 Oktober 2026





