Penelitian Ilmiah Dimulai Dari Masalah Akademik, Bukan Dari Membuat Judul atau Menentukan Topik

PELAJARAN 96

Oleh Hanif Nurcholis
Pembelajar Filsafat Sains dan Logika/Mantiq

Pengantar

Banyak dosen mengajarkan bahwa langkah pertama penelitian adalah menentukan topik atau membuat judul. Mahasiswa kemudian mengikuti ajaran tersebut.

Akibatnya, ketika mengajukan proposal penelitian, mahasiswa datang membawa judul, tetapi tidak mengetahui masalah akademik yang hendak diteliti.

Hampir semua mahasiswa bimbingan saya memberikan jawaban serupa ketika saya bertanya:

“Kamu akan melakukan penelitian apa?”

Mahasiswa A menjawab:

“Penelitian saya mengambil topik kinerja.”

Mahasiswa B menjawab:

“Penelitian saya berjudul Implementasi Dana Desa di Desa Mekar Jaya.”

Saya kemudian bertanya:

“Apa masalah akademik yang akan kamu teliti?”

Mereka kebingungan.

Mereka dapat menyebutkan topik. Mereka juga dapat membacakan judul. Akan tetapi, mereka tidak dapat menjelaskan fakta apa yang bermasalah, pengetahuan apa yang belum tersedia, keadaan apa yang belum dipahami, teori apa yang tidak sesuai dengan kenyataan, atau fenomena apa yang membutuhkan penjelasan ilmiah.

Di sinilah kekeliruan metodologis itu bermula.

Dari Mana Ajaran Penelitian Dimulai dari Judul?

Saya bertanya kepada mahasiswa:

“Dari mana kamu memperoleh ajaran bahwa penelitian dimulai dari menentukan topik atau membuat judul?”

“Waktu kuliah S1, dosen saya mengajarkan begitu, Prof.,” jawab mereka.

Saya kemudian memberi tugas:

“Carilah referensi yang menjelaskan bahwa penelitian dimulai dari menentukan topik atau membuat judul.”

Seminggu kemudian, mereka datang kembali dan menunjukkan beberapa buku serta modul metodologi penelitian berbahasa Indonesia.

Ternyata, mahasiswa saya tidak mengarang.

Memang terdapat bahan ajar yang secara terang-terangan menempatkan topik dan judul sebagai langkah pertama penelitian.

Surahman, Rachmat, dan Supardi dalam Modul Bahan Ajar Cetak Farmasi: Metodologi Penelitian tahun 2016 menyatakan:

«“Sebelum melakukan penelitian, pada umumnya mahasiswa perlu menentukan terlebih dahulu judul penelitian yang akan menjadi arah dan tujuan kegiatan penelitian. Penentuan topik dan judul penelitian merupakan langkah pertama dari kegiatan penelitian yang menjadi dasar bagi langkah-langkah selanjutnya.”»

Kalimat tersebut dimuat kembali oleh Artha Budi Susila Duarsa dan kawan-kawan dalam Buku Ajar Penelitian Kesehatan tahun 2021 pada halaman 19:

«“Sebelum melakukan penelitian, pada umumnya mahasiswa perlu menentukan terlebih dahulu judul penelitian yang akan menjadi arah dan tujuan kegiatan penelitian. Penentuan topik dan judul penelitian merupakan langkah pertama dari kegiatan penelitian yang menjadi dasar bagi langkah-langkah selanjutnya (Surahman, Rachmat, Supardi, 2016).”»

Dalam ringkasan bab, Duarsa dan kawan-kawan kembali menyatakan:

«“Sebelum melakukan penelitian, mahasiswa perlu menentukan terlebih dahulu judul penelitian yang akan menjadi arah dan tujuan kegiatan penelitian.”»

Ajaran serupa juga terdapat dalam Modul 1 mata kuliah Seminar Penelitian/EKMA5310 Universitas Terbuka yang berjudul “Penentuan Judul Penelitian”:

«“Sebelum melakukan penelitian, pada umumnya mahasiswa perlu menentukan terlebih dahulu judul penelitian yang akan menjadi arah dan tujuan kegiatan penelitian. Tercakup dalam penetapan judul penelitian ini adalah penetapan topik penelitian, khususnya didasarkan pada bidang studi atau konsentrasi bidang studi. Dengan demikian, penentuan topik dan judul penelitian merupakan langkah pertama dari kegiatan penelitian yang menjadi dasar bagi langkah-langkah selanjutnya.”»

Pada bagian berikutnya, modul tersebut juga menyatakan:

«“Setelah topik penelitian ditentukan, langkah berikutnya adalah menentukan judul penelitian.”»

Jadi, ajaran penelitian dimulai dari topik dan judul memang benar-benar ada dalam bahan ajar metodologi penelitian di Indonesia.

Tidak mengherankan apabila dosen kemudian menyuruh mahasiswa “mencari judul”, lalu mahasiswa datang kepada pembimbing hanya dengan membawa judul.

Kontradiksi dalam Buku Metodologi

Persoalannya menjadi lebih serius karena beberapa bahan ajar tersebut tidak konsisten secara metodologis.

Pada bagian awal dinyatakan bahwa penentuan topik dan judul merupakan langkah pertama penelitian.

Namun, pada bagian lain buku atau modul yang sama dijelaskan bahwa penelitian berangkat dari masalah.

Artinya, terdapat dua ajaran yang berbeda dalam satu bahan ajar.

Ajaran pertama:

topik → judul → penelitian.

Ajaran kedua:

masalah → rumusan masalah → tujuan → penelitian.

Kontradiksi semacam ini membuat dosen dan mahasiswa keblinger.

Bagian yang paling mudah diingat mahasiswa adalah perintah administratif:

“Cari topik.”

“Buat judul.”

“Ajukan tiga judul.”

Mahasiswa kemudian mengira bahwa setelah mempunyai judul, ia sudah mempunyai penelitian.

Padahal, ia baru mempunyai nama penelitian. Ia belum mempunyai persoalan ilmiah yang hendak dijawab.

Apa Kata Literatur Metodologi Berbahasa Inggris?

Saya kemudian memberi tugas berikutnya kepada mahasiswa:

“Sekarang carilah literatur metodologi penelitian berbahasa Inggris. Periksa apakah penelitian ilmiah dimulai dari judul, topik, atau masalah.”

Seminggu kemudian, mahasiswa melaporkan hasil bacaannya.

Kerlinger dan Lee dalam Foundations of Behavioral Research menempatkan identifikasi dan perumusan masalah sebagai bagian yang sangat penting dalam keseluruhan proses penelitian.

Creswell dalam Research Design menjelaskan bahwa masalah penelitian adalah persoalan atau keadaan yang menimbulkan kebutuhan untuk melakukan suatu studi.

Masalah penelitian menjadi dasar untuk merumuskan tujuan dan pertanyaan penelitian.

Booth, Colomb, dan Williams dalam The Craft of Research menjelaskan bahwa peneliti memang dapat bermula dari suatu minat dan memilih suatu topik. Namun, topik masih terlalu luas untuk membimbing penelitian.

Topik harus dipersempit, diubah menjadi pertanyaan, lalu dirumuskan menjadi masalah penelitian.

Dengan demikian, literatur tersebut membedakan dengan jelas antara:

  • minat;
  • topik;
  • masalah penelitian;
  • pertanyaan penelitian;
  • dan judul.

Setelah membaca dua kelompok literatur tersebut, kami kembali berdiskusi.

“Setelah kamu membaca literaturnya, apakah topik dan judul sama dengan masalah penelitian?” tanya saya.

“Tidak, Prof.,” jawab mahasiswa.

“Apa bedanya?”

“Topik hanya bidang yang diminati. Judul hanya nama penelitian. Masalah penelitian adalah sesuatu yang belum diketahui atau belum dapat dijelaskan,” jawab mereka.

“Setelah memahami perbedaannya, penelitianmu akan dimulai dari mana?”

“Dari masalah akademik, Prof.,” jawab mahasiswa.

Topik Bukan Masalah Penelitian

Topik dapat menjadi wilayah minat awal peneliti.

Misalnya:

  • kinerja pegawai;
  • dana desa;
  • pelayanan publik;
  • partisipasi masyarakat;
  • implementasi kebijakan;
  • otonomi daerah;
  • kepemimpinan;
  • kemiskinan.

Akan tetapi, semua itu baru merupakan tema umum.

“Kinerja pegawai” bukan masalah penelitian.

“Dana desa” bukan masalah penelitian.

“Implementasi kebijakan” juga bukan masalah penelitian.

Topik hanya menunjukkan bidang yang diminati peneliti. Topik belum menunjukkan apa yang bermasalah.

Misalnya, seorang mahasiswa memilih topik dana desa.

Pertanyaan berikutnya bukan:

“Apa judul penelitianmu?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

“Apa yang bermasalah dalam pengelolaan dana desa?”

“Fakta apa yang membutuhkan penjelasan?”

“Adakah kesenjangan antara peraturan dan pelaksanaannya?”

“Adakah ketidaksesuaian antara tujuan kebijakan dan hasilnya?”

“Adakah fenomena yang tidak dapat dijelaskan oleh teori yang tersedia?”

Tanpa jawaban atas pertanyaan tersebut, mahasiswa hanya memiliki topik. Ia belum memiliki masalah penelitian.

Judul Hanyalah Label

Judul bukan substansi penelitian.

Judul hanyalah nama singkat atau label yang diberikan kepada penelitian. Judul berfungsi memberikan gambaran ringkas mengenai isi penelitian.

Karena hanya merupakan label, judul tidak mungkin menjadi dasar ilmiah penelitian.

Penelitian yang dimulai dari judul sering menghasilkan judul sangat umum, misalnya:

Implementasi Dana Desa di Desa Mekar Jaya

Judul tersebut belum menjelaskan apa yang menarik secara akademik.

Apakah dana desa tidak dilaksanakan?

Apakah penggunaan anggarannya menyimpang?

Apakah program berjalan tetapi tidak menghasilkan perubahan?

Apakah terdapat konflik antara pemerintah desa dan masyarakat?

Apakah terjadi ketidaksesuaian antara peraturan dan praktik?

Tidak jelas.

Penelitian akhirnya hanya mendeskripsikan pelaksanaan program, lalu menyimpulkan bahwa pelaksanaannya “sudah berjalan”, “cukup baik”, “belum optimal”, atau “perlu ditingkatkan”.

Penelitian tidak menghasilkan penjelasan ilmiah karena sejak awal tidak mempunyai masalah akademik yang jelas.

Masalah Sosial dan Masalah Akademik

Masalah akademik berbeda dengan masalah sosial.

Kemiskinan adalah masalah sosial.

Pengangguran adalah masalah sosial.

Korupsi adalah masalah sosial.

Pelayanan publik yang buruk adalah masalah sosial.

Partisipasi masyarakat yang rendah juga merupakan masalah sosial.

Namun, semua itu belum otomatis menjadi masalah akademik.

Masalah sosial menjadi masalah akademik ketika peneliti dapat menunjukkan bagian mana yang belum diketahui atau belum dapat dijelaskan secara ilmiah.

Misalnya:

“Anggaran dana desa terus meningkat selama lima tahun, tetapi jumlah keluarga miskin di Desa Mekar Jaya tidak mengalami penurunan berarti.”

Di sini terdapat kesenjangan antara kebijakan dan hasil.

Peneliti kemudian bertanya:

“Mengapa peningkatan dana desa tidak diikuti oleh penurunan kemiskinan di Desa Mekar Jaya?”

Inilah pertanyaan penelitian.

Penelitian lalu diarahkan untuk mencari penjelasan atas kesenjangan tersebut.

Bentuk Masalah Akademik

Masalah akademik dapat berbentuk:

  1. kesenjangan antara teori dan fakta;
  2. pertentangan antara dua teori;
  3. ketidaksesuaian antara peraturan dan pelaksanaan;
  4. perbedaan antara tujuan kebijakan dan hasilnya;
  5. fenomena empiris yang belum dapat dijelaskan;
  6. temuan penelitian terdahulu yang saling bertentangan;
  7. kekosongan pengetahuan mengenai suatu fenomena;
  8. anomali atau paradoks yang menuntut penjelasan ilmiah.

Ilmu pengetahuan berkembang karena manusia menemukan masalah yang belum terpecahkan.

Tanpa masalah, tidak ada pertanyaan ilmiah.

Tanpa pertanyaan ilmiah, tidak jelas data apa yang harus dikumpulkan.

Tanpa kebutuhan data yang jelas, metode penelitian hanya menjadi ritual.

Urutan Logis Penelitian Ilmiah

Urutan penelitian yang keliru adalah:

topik → judul → teori → kuesioner → pengolahan data → kesimpulan.

Urutan yang lebih logis adalah:

fenomena empiris → identifikasi masalah → kajian literatur → perumusan masalah akademik → pertanyaan penelitian → tujuan penelitian → desain penelitian → pengumpulan data → analisis → penjelasan → judul final.

Pertama, peneliti mengamati fenomena empiris.

Kedua, peneliti menemukan sesuatu yang janggal, bertentangan, belum diketahui, atau belum dapat dijelaskan.

Ketiga, peneliti membaca literatur untuk mengetahui apa yang telah diketahui dan apa yang belum diketahui.

Keempat, peneliti merumuskan masalah akademik.

Kelima, dari masalah tersebut lahir pertanyaan penelitian.

Keenam, pertanyaan penelitian menentukan tujuan, kebutuhan data, metode pengumpulan data, dan cara analisis.

Ketujuh, setelah masalah dan arah penelitian jelas, judul disusun untuk mewakili isi penelitian.

Judul sementara dapat dibuat untuk kebutuhan administratif. Namun, judul tersebut tidak boleh mengendalikan penelitian.

Judul harus mengikuti masalah penelitian, bukan masalah penelitian dipaksakan mengikuti judul.

Contoh Pertama: Partisipasi Koperasi

Topik:

Partisipasi anggota koperasi.

Fenomena empiris:

Pemerintah telah memberikan bantuan modal kepada koperasi di Desa X, tetapi partisipasi anggota tetap rendah.

Pernyataan masalah:

Partisipasi anggota koperasi di Desa X tetap rendah meskipun pemerintah telah memberikan bantuan modal.

Masalah akademik:

Belum diketahui mengapa bantuan modal tidak meningkatkan partisipasi anggota koperasi sebagaimana diharapkan.

Pertanyaan penelitian:

Mengapa partisipasi anggota koperasi di Desa X tetap rendah setelah koperasi menerima bantuan modal?

Tujuan penelitian:

Menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya partisipasi anggota koperasi setelah pemberian bantuan modal.

Judul akhir:

Mengapa Bantuan Modal Tidak Meningkatkan Partisipasi Anggota Koperasi di Desa X?

Judul ini lebih ilmiah daripada sekadar:

Partisipasi Anggota Koperasi di Desa X.

Contoh Kedua: Dana Desa

Topik:

Dana desa.

Judul yang dibuat terlalu awal:

Implementasi Dana Desa di Desa Mekar Jaya.

Judul tersebut belum menunjukkan adanya masalah penelitian.

Peneliti kemudian menemukan fakta bahwa dana desa terus meningkat selama lima tahun, tetapi jumlah keluarga miskin tidak banyak berubah.

Pernyataan masalah:

Peningkatan alokasi dana desa selama lima tahun tidak diikuti oleh penurunan jumlah keluarga miskin di Desa Mekar Jaya.

Masalah akademik:

Belum diketahui mengapa peningkatan dana desa tidak menghasilkan penurunan kemiskinan sebagaimana menjadi tujuan pembangunan desa.

Pertanyaan penelitian:

Mengapa peningkatan dana desa tidak menurunkan kemiskinan di Desa Mekar Jaya?

Tujuan penelitian:

Menjelaskan penyebab peningkatan dana desa tidak diikuti oleh penurunan kemiskinan.

Judul akhir:

Paradoks Dana Desa: Peningkatan Anggaran dan Persistensi Kemiskinan di Desa Mekar Jaya

Sekarang penelitian mempunyai arah yang jelas.

Peneliti tidak sekadar mendeskripsikan pelaksanaan dana desa, tetapi mencari penjelasan atas suatu paradoks empiris.

Contoh Ketiga: Kinerja Pegawai

Mahasiswa berkata:

“Saya mengambil topik kinerja.”

Pernyataan tersebut belum menjelaskan apa pun.

Kinerja siapa?

Kinerja dalam bidang apa?

Apa yang bermasalah?

Apa yang belum diketahui?

Setelah melakukan pengamatan, mahasiswa menemukan bahwa suatu organisasi telah menaikkan tunjangan kinerja, menerapkan sistem absensi digital, dan menetapkan target kerja. Namun, waktu penyelesaian pelayanan justru semakin lama.

Pernyataan masalah:

Peningkatan tunjangan kinerja dan penerapan sistem pengawasan digital tidak diikuti oleh peningkatan kecepatan pelayanan.

Pertanyaan penelitian:

Mengapa peningkatan tunjangan dan pengawasan digital tidak meningkatkan kecepatan pelayanan?

Tujuan penelitian:

Menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan kebijakan peningkatan tunjangan dan pengawasan digital tidak menghasilkan perbaikan pelayanan.

Judul akhir:

Tunjangan Meningkat, Pelayanan Melambat: Paradoks Kebijakan Kinerja Pegawai pada Instansi X

Inilah penelitian yang dimulai dari masalah, bukan dari ritual membuat judul.

Mengapa Mahasiswa yang Memulai dari Judul Menjadi Bingung?

Mahasiswa yang hanya membawa judul biasanya mengalami beberapa kesulitan.

Pertama, mahasiswa tidak mengetahui data apa yang harus dikumpulkan.

Kedua, mahasiswa memasukkan terlalu banyak teori karena tidak mengetahui teori mana yang relevan dengan masalahnya.

Ketiga, mahasiswa membuat pertanyaan penelitian yang terlalu umum dan administratif.

Keempat, mahasiswa memilih metode berdasarkan kebiasaan, bukan berdasarkan tuntutan masalah.

Kelima, mahasiswa menyebarkan kuesioner atau melakukan wawancara tanpa mengetahui informasi apa yang sebenarnya diperlukan.

Keenam, analisis hanya berisi pengulangan data, bukan penjelasan atas masalah.

Ketujuh, kesimpulan hanya menyatakan bahwa pelaksanaan program “sudah berjalan tetapi belum optimal”.

Semua kekacauan tersebut terjadi karena penelitian tidak mempunyai pusat gravitasi berupa masalah akademik.

Topik Boleh Menjadi Titik Minat

Perlu ditegaskan bahwa seorang peneliti boleh mempunyai minat terhadap suatu topik.

Seseorang dapat tertarik pada kemiskinan, desa, birokrasi, pendidikan, pelayanan publik, atau pemerintahan daerah.

Namun, ketertarikan terhadap topik belum merupakan penelitian.

Topik hanya menjadi pintu masuk untuk mencari masalah.

Karena itu, rumusan yang lebih tepat adalah:

Minat peneliti boleh bermula dari suatu topik, tetapi penyelidikan ilmiah harus dimulai dari masalah yang membutuhkan jawaban dan penjelasan.

Topik menjawab pertanyaan:

“Bidang apa yang menarik perhatian saya?”

Masalah penelitian menjawab:

“Apa yang belum diketahui atau belum dapat dijelaskan dalam bidang tersebut?”

Pertanyaan penelitian menjawab:

“Apa yang harus saya cari jawabannya?”

Judul menjawab:

“Apa nama singkat yang tepat bagi penelitian tersebut?”

Keempatnya tidak boleh dicampuradukkan.

Penutup

Secara metodologis, penelitian ilmiah tidak boleh digerakkan oleh judul.

Topik hanyalah wilayah minat.

Judul hanyalah nama atau label penelitian.

Masalah akademik adalah kesenjangan pengetahuan, kontradiksi, anomali, paradoks, atau fenomena yang belum memperoleh penjelasan ilmiah yang memadai.

Dari masalah akademik lahir pertanyaan penelitian.

Dari pertanyaan penelitian lahir tujuan penelitian.

Dari tujuan penelitian ditentukan data dan metode yang dibutuhkan.

Setelah seluruh bangunan penelitian menjadi jelas, barulah judul disusun agar mewakili isi penelitian secara tepat.

Ajaran yang menyatakan bahwa “penentuan topik dan judul penelitian merupakan langkah pertama” telah ikut membentuk kebiasaan keliru dalam pembelajaran metodologi penelitian.

Mahasiswa dilatih berburu judul, bukan menemukan masalah.

Dosen sibuk mengoreksi susunan kata dalam judul, tetapi tidak selalu memeriksa apakah terdapat masalah akademik di belakang judul tersebut.

Akibatnya, penelitian berubah menjadi pekerjaan administratif membuat proposal, bukan kegiatan ilmiah untuk menghasilkan penjelasan baru.

Pada akhir bimbingan, saya berkata kepada mahasiswa:

“Pada bimbingan berikutnya, kamu harus dapat menjelaskan masalah akademik yang akan kamu teliti. Jangan lagi hanya membacakan topik atau judul. Kalau kamu masih menjawab dengan judul, berarti kamu belum mempunyai penelitian.”

Referensi

Booth, W. C., Colomb, G. G., & Williams, J. M. (2008). The craft of research (3rd ed.). University of Chicago Press.

Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). SAGE Publications.

Duarsa, A. B. S., Arjita, I. P. D., Ma’ruf, F., Mardiah, A., Hanafi, F., Budiarto, J., & Utami, S. (2021). Buku ajar penelitian kesehatan. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar.

Kerlinger, F. N., & Lee, H. B. (2000). Foundations of behavioral research (4th ed.). Harcourt College Publishers.

Surahman, Rachmat, & Supardi, S. (2016). Modul bahan ajar cetak farmasi: Metodologi penelitian. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Universitas Terbuka. (t.t.). Seminar penelitian/EKMA5310: Modul 1—Penentuan judul penelitian. Universitas Terbuka.

Avatar photo

Makpi Support

Articles: 1027

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *