PELAJARAN 95
ILMU SOSIAL DARI DURKHEIM HINGGA EKONOMI EKSPERIMENTAL MENGUNGKAP MISTERI SOSIAL. TAPI APA ILMU SOSIAL KONTEMPORER MAKIN MENGUNGKAP FAKTA SOSIAL ATAU SEKADAR MEMBUKTIKAN HIPOTESIS ARTIFISIAL?
Oleh Hanif Nurcholis
Pembelajar Filsafat Sains dan Logika/Mantiq
Pengantar
Ada masa ketika kehidupan masyarakat dijelaskan melalui nasihat moral, ajaran keagamaan, filsafat politik, mitos, dan spekulasi tentang sifat manusia.
Kemiskinan dianggap semata-mata sebagai akibat kemalasan. Kejahatan dipandang sebagai kerusakan moral pribadi. Kekuasaan dijelaskan sebagai kehendak raja. Wabah dianggap sebagai kutukan. Kemajuan dan kemunduran masyarakat diterangkan melalui dugaan yang belum diperiksa berdasarkan kenyataan.
Kemudian lahirlah cara berpikir baru.
Masyarakat mulai dipelajari melalui pengamatan sistematis, pencatatan statistik, penelitian sejarah, perbandingan antarmasyarakat, studi lapangan, survei sosial, pemeriksaan dokumen, dan eksperimen.
Sejak itu, ilmu sosial tidak hanya menghasilkan teori tentang masyarakat, tetapi juga mengubah cara manusia memahami kemiskinan, ketimpangan, pendidikan, negara, ekonomi, kekuasaan, kebudayaan, birokrasi, dan perubahan sosial.
Namun, perkembangan ilmu sosial temporer tidak selalu bergerak maju menuju kemampuan yang lebih baik dalam mengungkap dan menjelaskan misteri fakta sosial.
Dalam banyak penelitian kontemporer, ilmu sosial justru mengalami penyempitan.
Penelitian sosial tidak lagi dimulai dari rasa ingin tahu terhadap kenyataan yang belum dipahami dan masih misteri tetapi dari hanya ngotak-ngatik variabel-variabel artifisial yang telah disusun peneliti.
Penelitian tidak lagi berusaha mengungkap bagaimana fakta sosial bekerja, tetapi sekadar membuktikan hipotesis mengenai hubungan antara skor opini yang satu dan skor persepsi yang lain.
Akibatnya, ilmu sosial makin dipenuhi angka, tabel, korelasi, regresi, dan istilah statistik yang rumit, tetapi semakin miskin penjelasan tentang kenyataan sosial.
Lahirnya Ilmu Sosial Modern
Auguste Comte memperkenalkan gagasan bahwa masyarakat dapat dipelajari secara ilmiah.
Menurut filsafat positivisme, fenomena sosial tidak cukup dijelaskan melalui spekulasi metafisis. Masyarakat harus diamati untuk menemukan pola, keteraturan, dan hukum yang mengaturnya.
Karl Marx mempelajari hubungan antara sistem produksi, kelas sosial, kepemilikan, konflik, dan kekuasaan.
Ia tidak hanya meminta pendapat buruh mengenai kapitalisme, tetapi menganalisis hubungan produksi, kepemilikan alat produksi, proses kerja, akumulasi modal, dan pembentukan kelas sosial.
Émile Durkheim menunjukkan bahwa tindakan yang tampak sangat pribadi sekalipun dapat dipengaruhi oleh fakta sosial.
Dalam penelitiannya tentang bunuh diri, Durkheim tidak sekadar menanyakan persepsi masyarakat tentang penyebab bunuh diri. Ia memeriksa data bunuh diri, agama, status perkawinan, integrasi sosial, dan perubahan masyarakat.
Dari fakta-fakta tersebut, ia membangun penjelasan mengenai hubungan antara integrasi sosial, regulasi sosial, dan tindakan individual.
Max Weber mengembangkan pendekatan yang berbeda.
Menurut Weber, tindakan manusia tidak cukup dijelaskan hanya melalui hubungan sebab-akibat. Ilmu sosial juga harus memahami makna yang diberikan manusia terhadap tindakan manusia dan komunitas.
Karena itu, ilmu sosial harus menggabungkan penjelasan kausal dengan pemahaman terhadap makna tindakan sosial.
Perjalanan ilmu sosial kemudian berkembang semakin luas.
Para peneliti mempelajari masyarakat melalui sensus, arsip, dokumen pemerintahan, statistik ekonomi, pengamatan langsung, etnografi, wawancara, survei, analisis jaringan, data administrasi, eksperimen laboratorium, eksperimen lapangan, dan eksperimen alamiah.
Dari penelitian tersebut lahir pengetahuan mengenai birokrasi, kapitalisme, demokrasi, kolonialisme, pembangunan, kemiskinan, organisasi, kebudayaan, hubungan negara dan masyarakat, serta dampak kebijakan publik.
Ilmu Sosial Mempelajari Fakta Sosial
Ilmu sosial pada dasarnya merupakan usaha sistematis untuk mengungkap, memahami, dan menjelaskan kenyataan sosial.
Kenyataan sosial tersebut dapat berbentuk:
- tindakan manusia;
- hubungan sosial;
- lembaga;
- struktur;
- kekuasaan;
- konflik;
- kerja sama;
- nilai;
- norma;
- kebudayaan;
- keputusan;
- kebijakan;
- proses ekonomi;
- perilaku birokrasi;
- perubahan sosial;
- dan hasil nyata suatu tindakan atau kebijakan.
Apabila peneliti ingin mengetahui jumlah penduduk miskin, ia membutuhkan data tentang pendapatan, pengeluaran, pekerjaan, kepemilikan aset, konsumsi makanan, kesehatan, pendidikan, dan kondisi tempat tinggal.
Apabila ingin mengetahui dampak suatu program pendidikan, ia harus memeriksa keadaan sebelum dan sesudah program atau membandingkan kelompok yang menerima program dengan kelompok yang tidak menerimanya.
Apabila ingin memahami makna suatu ritual, peneliti perlu mengamati praktik ritual tersebut, konteks sosialnya, serta penafsiran para pelakunya.
Apabila ingin menjelaskan bekerjanya birokrasi, peneliti tidak cukup hanya meminta pendapat pegawai. Ia harus memeriksa struktur organisasi, pembagian kewenangan, proses pengambilan keputusan, dokumen, anggaran, perilaku aparat, pelaksanaan pekerjaan, dan hasil pelayanan yang nyata.
Dengan demikian, metode penelitian harus mengikuti pertanyaan dan objek penelitian.
Data tidak boleh dipilih hanya karena mudah diperoleh.
Pertanyaan Filosofis dalam Ilmu Sosial
Perkembangan ilmu sosial melahirkan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang mendasar.
Apa yang disebut fakta sosial?
Apakah realitas sosial berada di luar pikiran manusia atau dibentuk melalui bahasa, makna, dan penafsiran?
Dapatkah hukum sebab-akibat dalam masyarakat ditemukan sebagaimana hukum alam?
Apakah tugas ilmu sosial menjelaskan, memahami, mengkritik, atau memperbaiki masyarakat?
Sejauh mana nilai, kepentingan, kekuasaan, dan ideologi memengaruhi penelitian?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut melahirkan berbagai tradisi dalam filsafat dan metodologi ilmu sosial.
Positivisme menekankan pengamatan, pengukuran, keteraturan, dan hukum sebab-akibat.
Interpretivisme menekankan pemahaman terhadap makna tindakan manusia.
Teori kritis berusaha mengungkap dominasi, ideologi, ketimpangan, dan hubungan kekuasaan.
Realisme kritis berusaha menemukan mekanisme yang bekerja di balik peristiwa yang tampak.
Pendekatan eksperimental mencoba menguji secara lebih ketat apakah suatu tindakan atau kebijakan benar-benar menyebabkan perubahan tertentu.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ilmu sosial tidak dapat direduksi hanya menjadi pembagian antara penelitian kuantitatif dan kualitatif.
Masalah mendasarnya bukan sekadar apakah data berbentuk angka atau kata-kata.
Masalah utamanya adalah apakah data tersebut benar-benar relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan apakah kesimpulan yang dibuat sesuai dengan kekuatan bukti yang tersedia.
Pergeseran dari Fakta Sosial ke Opini tentang Fakta Sosial
Dalam perkembangannya, sebagian ilmu sosial mengalami pergeseran yang sangat serius.
Penelitian tidak lagi berangkat dari usaha mengungkap fakta sosial yang misterius.
Penelitian justru berangkat dari penetapan variabel X dan variabel Y.
Kedua variabel tersebut kemudian dibuat definisi konseptual dan definisi operasionalnya. Variabel dijabarkan menjadi indikator. Indikator diubah menjadi sejumlah pernyataan dalam kuesioner.
Responden lalu diminta memilih jawaban:
1 = sangat tidak setuju;
2 = tidak setuju;
3 = netral;
4 = setuju;
5 = sangat setuju.
Jawaban responden diberi angka, dijumlahkan, diuji validitas dan reliabilitasnya, lalu dianalisis menggunakan korelasi, regresi, analisis jalur, atau structural equation modeling.
Apabila hasilnya signifikan, peneliti menyimpulkan bahwa variabel X berpengaruh terhadap variabel Y.
Pola tersebut kemudian diyakini sebagai bentuk baku penelitian kuantitatif.
Di sinilah terjadi kekeliruan epistemologis.
Yang diuji kali bukan fakta sosial, melainkan skor opini, persepsi, perasaan, penilaian subjektif, atau sikap responden.
Opini Bukan Fakta yang Diopinikan
Pendapat memang data.
Namun, pendapat hanya menjadi data yang tepat apabila objek penelitian memang pendapat.
Persepsi merupakan data apabila yang ingin diteliti memang persepsi.
Sikap merupakan data apabila masalah penelitian memang berkaitan dengan sikap.
Kesalahan terjadi ketika pendapat tentang kenyataan dianggap sama dengan kenyataan itu sendiri.
Pendapat tentang kemiskinan bukanlah fakta kemiskinan.
Persepsi tentang korupsi bukanlah peristiwa korupsi.
Penilaian pegawai mengenai kinerja organisasinya bukanlah hasil kerja organisasi.
Pendapat bawahan mengenai kepemimpinan bukanlah keseluruhan tindakan pemimpin.
Kepuasan masyarakat terhadap pelayanan bukanlah seluruh fakta mengenai mutu pelayanan.
Seseorang dapat merasa puas terhadap pelayanan yang secara objektif lambat, mahal, diskriminatif, atau tidak sesuai prosedur.
Sebaliknya, seseorang dapat merasa tidak puas terhadap pelayanan yang sebenarnya telah memenuhi standar karena keinginannya tidak terpenuhi.
Dengan demikian, fakta mengenai perasaan puas berbeda dari fakta mengenai kualitas pelayanan.
Keduanya dapat diteliti, tetapi tidak boleh dicampuradukkan.
Kemiskinan Diganti Persepsi tentang Kemiskinan
Kemiskinan semestinya diteliti melalui kondisi kehidupan yang konkret.
Peneliti dapat memeriksa pendapatan, pengeluaran, makanan, perumahan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, utang, kepemilikan aset, dan akses terhadap pelayanan dasar.
Namun, dalam penelitian berbasis persepsi, fakta tersebut sering digantikan dengan pernyataan seperti:
“Saya merasa bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat telah meningkat.”
“Menurut saya, program pemerintah berhasil mengurangi kemiskinan.”
“Saya setuju bahwa masyarakat telah menikmati hasil pembangunan.”
Jawaban terhadap pernyataan tersebut kemudian dihitung dan diperlakukan sebagai ukuran keberhasilan penanggulangan kemiskinan.
Padahal, yang diperoleh hanyalah opini responden tentang kemiskinan, bukan fakta kemiskinan.
Kinerja Organisasi Diganti Persepsi Pegawai
Kinerja birokrasi seharusnya diperiksa melalui hasil kerja yang nyata.
Peneliti dapat memeriksa jumlah pelayanan yang diselesaikan, ketepatan waktu, kualitas keputusan, tingkat kesalahan, penggunaan anggaran, ketercapaian sasaran, keluhan masyarakat, dan perubahan yang dihasilkan.
Namun, dalam banyak penelitian, kinerja organisasi diukur dengan menanyakan kepada pegawai:
“Saya selalu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.”
“Organisasi saya telah mencapai sasaran.”
“Saya mampu bekerja dengan efektif.”
“Pelayanan yang kami berikan sudah berkualitas.”
Pegawai menilai dirinya sendiri dan organisasinya sendiri.
Jawaban tersebut kemudian disebut sebagai data kinerja.
Hal ini sama dengan meminta seorang siswa memberi nilai kepada dirinya sendiri, lalu nilai tersebut dianggap sebagai hasil ujian.
Yang diukur bukan kinerja, melainkan persepsi pegawai tentang kinerjanya.
Korupsi Diganti Persepsi tentang Integritas
Korupsi merupakan tindakan konkret.
Korupsi dapat diteliti melalui transaksi, aliran dana, konflik kepentingan, manipulasi anggaran, penyalahgunaan kewenangan, dokumen pengadaan, kekayaan yang tidak wajar, pemeriksaan audit, dan putusan pengadilan.
Namun, dalam penelitian berbasis persepsi, korupsi diganti dengan pernyataan seperti:
“Pegawai di organisasi ini bekerja dengan jujur.”
“Pimpinan menunjukkan integritas yang tinggi.”
“Penyalahgunaan kewenangan jarang terjadi di instansi ini.”
Responden kemudian memilih setuju atau tidak setuju.
Skor jawaban tersebut diperlakukan sebagai ukuran integritas organisasi.
Padahal, orang yang berada dalam organisasi korup dapat menjawab bahwa organisasinya sangat berintegritas.
Ia mungkin tidak mengetahui korupsi yang terjadi, takut menjawab dengan jujur, ingin melindungi organisasinya, atau justru ikut terlibat di dalamnya.
Kepemimpinan Diganti Persepsi Bawahan
Kepemimpinan merupakan rangkaian tindakan nyata.
Ia tampak dalam keputusan, pembagian kewenangan, penyelesaian konflik, perlindungan terhadap bawahan, penegakan aturan, pengelolaan sumber daya, dan hasil organisasi.
Namun, penelitian mengubah kepemimpinan menjadi kumpulan pernyataan seperti:
“Pemimpin saya memberikan motivasi.”
“Pemimpin saya memiliki visi yang jelas.”
“Pemimpin saya memperhatikan bawahannya.”
“Pemimpin saya memberi teladan yang baik.”
Jawaban bawahan diberi skor, lalu disebut sebagai ukuran kepemimpinan.
Penelitian tersebut sebenarnya tidak mengamati kepemimpinan.
Ia hanya mengukur penilaian bawahan terhadap pemimpinnya.
Penilaian tersebut dapat dipengaruhi oleh kedekatan pribadi, rasa takut, harapan memperoleh promosi, konflik, kepentingan, atau ketidaktahuan bawahan mengenai keputusan strategis pemimpin.
Munculnya Variabel Artifisial
Dalam penelitian semacam ini, variabel X merupakan konstruksi peneliti.
Variabel Y juga merupakan konstruksi peneliti.
Indikatornya ditentukan oleh peneliti.
Pernyataannya dibuat oleh peneliti.
Pilihan jawabannya disediakan oleh peneliti.
Skornya diberikan oleh peneliti.
Model hubungan antarvariabelnya juga telah dirancang oleh peneliti.
Responden hanya diminta mengisi kotak-kotak jawaban yang telah disiapkan.
Setelah itu, perangkat statistik mencari hubungan di antara angka-angka yang sejak awal memang dibentuk untuk mewakili konstruksi peneliti.
Penelitian akhirnya menjadi lingkaran tertutup.
Peneliti menciptakan variabel, menciptakan indikator, menciptakan instrumen, menciptakan skor, menciptakan hipotesis, kemudian menyatakan berhasil membuktikan hubungan antara ciptaan-ciptaannya sendiri.
Ia tidak menemukan fakta baru di luar kerangka yang telah disusunnya.
Ia hanya mengonfirmasi model konseptual yang sejak awal dipaksakan kepada kenyataan.
Hipotesis Artifisial
Dari penelitian tersebut lahir hipotesis seperti:
“Kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja.”
“Motivasi berpengaruh terhadap produktivitas.”
“Kompetensi berpengaruh terhadap kualitas pelayanan.”
“Budaya organisasi berpengaruh terhadap efektivitas organisasi.”
“Partisipasi masyarakat berpengaruh terhadap keberhasilan pembangunan.”
“Disiplin berpengaruh terhadap kinerja pegawai.”
Kesimpulan tersebut tampak ilmiah karena dilengkapi angka koefisien, nilai signifikansi, tabel, dan rumus statistik.
Namun, kesimpulan tersebut tidak menjelaskan apa-apa. Ini inferensi pepesan kosong.
Kita tetap tidak mengetahui tindakan kepemimpinan apa yang menghasilkan perubahan.
Kita tidak mengetahui bagaimana motivasi meningkatkan produktivitas.
Kita tidak mengetahui kompetensi apa yang benar-benar dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu.
Kita tidak mengetahui unsur budaya organisasi mana yang menghambat atau mendukung pekerjaan.
Kita juga tidak mengetahui bagaimana partisipasi berlangsung, siapa yang berpartisipasi, siapa yang dikeluarkan, kepentingan siapa yang dominan, dan hasil nyata apa yang ditimbulkannya.
Kalimat “X berpengaruh terhadap Y” hanya menyatakan bahwa dua kumpulan skor memiliki hubungan statistik.
Ia belum menjelaskan proses, mekanisme, konteks, aktor, tindakan, dan kondisi yang menghasilkan hubungan tersebut.
Tautologi yang Dibungkus Statistik
Banyak hipotesis penelitian sebenarnya merupakan kebenaran umum yang hampir tidak perlu diteliti. Anak SMP pun sudah tahu. Untuk membuktikan hipotesis model di bawah:
Semakin baik kepemimpinan, semakin baik kinerja.
Semakin tinggi motivasi, semakin tinggi produktivitas.
Semakin tinggi kompetensi, semakin baik pelayanan.
Semakin baik disiplin, semakin baik hasil kerja.
Kesimpulan tersebut menyerupai tautologi. Bahkan anak SD yang cerdas sudah tahu.
Istilah “kepemimpinan yang baik” sejak awal telah didefinisikan melalui ciri-ciri positif.
Istilah “kinerja yang baik” juga didefinisikan melalui hasil yang positif.
Tidak mengherankan apabila dua konstruk positif tersebut kemudian berkorelasi.
Masalahnya, penelitian tersebut tidak menjelaskan kenyataan konkret.
Ia hanya membuktikan bahwa konsep positif berhubungan dengan konsep positif.
Hal itu sama dengan mengatakan bahwa semakin baik sesuatu, semakin baik pula hasilnya.
Signifikansi Statistik Bukan Penjelasan Ilmiah
Penelitian sering dianggap berhasil ketika nilai signifikansinya berada di bawah 0,05.
Hipotesis diterima.
Artikel selesai.
Mahasiswa lulus.
Namun, nilai signifikansi tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa sebuah penelitian telah menjelaskan kenyataan.
Signifikansi statistik hanya menunjukkan bahwa pola yang ditemukan dalam data kemungkinan tidak sepenuhnya muncul karena variasi acak berdasarkan asumsi model tertentu.
Signifikansi tidak otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat.
Signifikansi tidak menjelaskan mekanisme.
Signifikansi tidak menunjukkan bahwa pengaruh tersebut penting secara substantif.
Signifikansi juga tidak memperbaiki data yang sejak awal tidak sesuai dengan fakta yang hendak dijelaskan.
Apabila data yang dimasukkan merupakan opini tentang kinerja, hasil statistiknya tetap merupakan hubungan di antara opini tentang kinerja.
Perangkat statistik tidak dapat mengubah opini menjadi fakta objektif.
Rumus yang canggih tidak dapat menyelamatkan data yang salah secara epistemologis.
Korelasi Bukan Sebab-Akibat
Masalah lainnya adalah kecenderungan mengubah korelasi menjadi kausalitas.
Dua variabel dapat berhubungan karena berbagai alasan.
X mungkin menyebabkan Y.
Y mungkin menyebabkan X.
X dan Y mungkin sama-sama disebabkan oleh Z.
Hubungan tersebut mungkin terjadi secara kebetulan.
Hubungan itu juga dapat muncul karena kedua variabel diukur dengan kuesioner yang sama, responden yang sama, waktu yang sama, dan pola pertanyaan yang hampir sama.
Misalnya, pegawai yang sedang puas terhadap organisasinya mungkin memberikan nilai tinggi kepada kepemimpinan, motivasi, budaya organisasi, dan kinerja sekaligus.
Korelasi tinggi kemudian ditemukan di antara semua variabel.
Namun, korelasi itu mungkin hanya menggambarkan suasana hati atau kecenderungan responden memberikan jawaban positif, bukan hubungan kausal di antara fakta sosial.
Common Method Bias
Apabila variabel X dan variabel Y diukur melalui responden yang sama, dengan instrumen yang sama, pada waktu yang sama, maka hubungan statistik dapat diperbesar oleh metode pengukuran itu sendiri.
Seorang responden yang cenderung senang akan memberikan skor tinggi pada hampir semua pernyataan.
Seorang responden yang kecewa akan memberikan skor rendah pada hampir semua variabel.
Akibatnya, variabel kepemimpinan, motivasi, budaya organisasi, kepuasan, dan kinerja terlihat berkorelasi.
Padahal, yang tampak mungkin bukan hubungan antara fakta-fakta sosial tersebut, tetapi pola jawaban responden.
Penelitian kemudian membuktikan hubungan yang sebagian dibentuk oleh alat ukurnya sendiri.
Ilmu Sosial Berubah Menjadi Industri Pembuktian Hipotesis
Dalam keadaan demikian, ilmu sosial tidak lagi terutama diarahkan untuk menemukan sesuatu yang belum diketahui.
Ia berubah menjadi industri pembuktian hipotesis artifisial.
Mahasiswa diminta mencari dua atau tiga variabel.
Variabel tersebut dicari definisinya dari buku teks.
Indikator diambil dari penelitian terdahulu.
Kuesioner disebarkan.
Data dimasukkan ke perangkat lunak.
Hipotesis diterima atau ditolak.
Kesimpulan dibuat.
Penelitian selesai.
Setiap tahun, ribuan penelitian menghasilkan kesimpulan yang hampir sama:
X berpengaruh terhadap Y.
X dan Y berpengaruh terhadap Z.
Y memediasi pengaruh X terhadap Z.
Z memoderasi hubungan X dengan Y.
Model menjadi semakin rumit, tetapi penjelasan mengenai kenyataan tidak menjadi lebih dalam dan terang.
Variabel bertambah.
Diagram jalur semakin ramai.
Namun, misteri fakta sosial tetap tidak terungkap.
Kita tetap tidak mengetahui mengapa birokrasi gagal, mengapa kemiskinan bertahan, bagaimana korupsi berlangsung, siapa yang memperoleh keuntungan, siapa yang dirugikan, dan mekanisme apa yang membuat keadaan tersebut terus berulang.
Ilmu Sosial Makin Jauh dari Misteri Fakta Sosial
Tujuan awal ilmu adalah mengungkap sesuatu yang belum diketahui.
Galileo mengamati gerak benda dan langit untuk memahami hukum alam.
Newton menjelaskan gerak dan gravitasi.
Darwin mengungkap mekanisme evolusi.
Durkheim mencoba menjelaskan mengapa tingkat bunuh diri berbeda antarkelompok masyarakat.
Weber berusaha memahami hubungan antara gagasan keagamaan, tindakan ekonomi, dan perkembangan kapitalisme.
Para ilmuwan tersebut berhadapan dengan misteri nyata.
Mereka tidak sekadar membuat dua variabel artifisial, menyebarkan kuesioner, lalu mencari nilai signifikansi.
Ironisnya, ilmu sosial makin ke sini dalam banyak kasus bukan semakin mampu mengungkap dan menjelaskan misteri fakta sosial.
Ia justru berubah menjadi pembuktian hipotesis artifisial atas opini dan persepsi yang tidak menjelaskan apa-apa. Hanya pepesan kosong.
Yang dipelajari bukan lagi kemiskinan, tetapi pendapat orang tentang kemiskinan.
Bukan lagi kinerja birokrasi, tetapi penilaian pegawai atas kinerjanya sendiri.
Bukan lagi korupsi, tetapi persepsi tentang integritas.
Bukan lagi kepemimpinan sebagai tindakan, tetapi kesukaan atau ketidaksukaan bawahan kepada pemimpin.
Bukan lagi keberhasilan pembangunan, tetapi tingkat persetujuan responden terhadap kalimat yang dibuat peneliti.
Ilmu sosial akhirnya menjadi ilmu opini orang tentang fakta sosial, bukan ilmu yang mengungkap fakta sosial itu sendiri.
Penelitian Selesai ketika Hipotesis Terbukti
Dalam pola penelitian tersebut, tujuan penelitian bergeser.
Penelitian dianggap selesai ketika hipotesis diterima atau ditolak.
Ia tidak harus menemukan fakta baru.
Ia tidak harus menjelaskan mekanisme.
Ia tidak harus memeriksa penjelasan alternatif.
Ia tidak harus menghasilkan teori baru.
Ia juga tidak harus menjelaskan kondisi konkret tempat hubungan itu terjadi.
Cukup ditemukan bahwa nilai signifikansi berada di bawah batas tertentu.
Padahal, tujuan ilmu bukan sekadar membuktikan hipotesis.
Hipotesis hanyalah dugaan sementara.
Hipotesis berguna apabila membantu peneliti menguji suatu penjelasan mengenai kenyataan.
Namun, apabila hipotesis dibangun dari konstruk artifisial dan diuji hanya dengan skor persepsi, pembuktiannya tidak otomatis menghasilkan pengetahuan mengenai fakta sosial.
Penjelasan Ilmiah Membutuhkan Mekanisme
Penjelasan ilmiah tidak cukup menyatakan bahwa X berpengaruh terhadap Y.
Penjelasan harus menunjukkan bagaimana hubungan itu berlangsung.
Siapa yang bertindak?
Apa tindakannya?
Dalam kondisi apa tindakan tersebut dilakukan?
Sumber daya apa yang digunakan?
Aturan apa yang membatasi?
Bagaimana tindakan tersebut menghasilkan perubahan?
Apa bukti bahwa perubahan benar-benar terjadi?
Adakah penjelasan lain yang lebih masuk akal?
Misalnya, penelitian mengenai pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja harus menjelaskan tindakan kepemimpinan yang konkret.
Apakah pemimpin mengubah pembagian kerja?
Apakah ia menghapus prosedur yang menghambat?
Apakah ia menambah sumber daya?
Apakah ia memberikan insentif?
Apakah ia menjatuhkan sanksi?
Apakah ia menyelesaikan konflik?
Apakah tindakan tersebut benar-benar diikuti oleh perubahan hasil kerja?
Tanpa uraian mekanisme tersebut, kalimat “kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja” hanyalah pernyataan umum.
Data Harus Mengikuti Pertanyaan Penelitian
Tidak ada satu jenis data yang tepat untuk semua penelitian.
Apabila peneliti ingin mengetahui sikap politik, ia dapat menggunakan survei sikap.
Apabila ingin mengetahui pengalaman korban, ia dapat menggunakan wawancara mendalam.
Apabila ingin memahami kebudayaan suatu masyarakat, ia dapat melakukan etnografi.
Apabila ingin mengetahui perubahan jumlah pengangguran, ia membutuhkan data ketenagakerjaan.
Apabila ingin menilai dampak kebijakan, ia perlu membandingkan keadaan dengan dan tanpa kebijakan.
Apabila ingin mengetahui proses korupsi, ia harus memeriksa dokumen, transaksi, jaringan pelaku, dan tindakan konkret.
Kesalahan metodologis terjadi ketika peneliti memilih kuesioner terlebih dahulu, lalu mencari masalah yang dapat dimasukkan ke dalam kuesioner.
Metode seharusnya mengikuti masalah.
Bukan masalah yang dipaksa mengikuti metode.
Kuesioner, Wawancara, dan Statistik Bukan Musuh
Kritik ini tidak berarti bahwa kuesioner, wawancara, skala Likert, dan statistik harus ditolak.
Semua alat tersebut berguna apabila digunakan secara tepat.
Skala Likert berguna untuk mengukur sikap, preferensi, keyakinan, dan persepsi.
Wawancara berguna untuk memahami pengalaman, alasan, pengetahuan, dan makna tindakan.
Statistik berguna untuk mendeskripsikan pola, menguji perbedaan, memperkirakan hubungan, dan menilai ketidakpastian.
Masalahnya bukan pada alat.
Masalahnya terletak pada kekeliruan menempatkan alat.
Pisau dapat digunakan untuk operasi, tetapi tidak dapat digunakan untuk mengukur suhu.
Termometer dapat mengukur suhu, tetapi tidak dapat menjelaskan penyebab penyakit.
Demikian pula, skala persepsi tidak dapat digunakan sebagai pengganti fakta objektif tanpa argumentasi dan validasi yang kuat.
Kembali kepada Fakta Sosial
Ilmu sosial harus kembali kepada tugas utamanya.
Ia harus mengamati kenyataan.
Ia harus menemukan masalah yang sungguh-sungguh belum dipahami.
Ia harus mengumpulkan bukti yang relevan.
Ia harus membedakan fakta dari opini mengenai fakta.
Ia harus mencari pola.
Ia harus menjelaskan proses dan mekanisme.
Ia harus memeriksa penjelasan alternatif.
Ia harus membangun konsep dan teori berdasarkan kenyataan.
Peneliti tidak boleh puas hanya karena hipotesisnya diterima.
Ia harus bertanya apakah hasil penelitiannya benar-benar membuat manusia lebih memahami masyarakat.
Apakah penelitian tersebut menjelaskan sesuatu yang sebelumnya misterius?
Apakah ditemukan fakta baru?
Apakah ditemukan mekanisme baru?
Apakah ditemukan pola yang belum diketahui?
Apakah teori lama diperkuat, diperbaiki, atau dibantah?
Apakah hasil penelitian dapat membantu memahami dan memperbaiki kenyataan?
Dari Durkheim hingga Ekonomi Eksperimental
Perjalanan ilmu sosial dari Durkheim hingga ekonomi eksperimental menunjukkan bahwa kemajuan ilmu lahir ketika peneliti berhadapan langsung dengan fakta dan berusaha menguji penjelasan secara ketat.
Durkheim menggunakan data sosial untuk menjelaskan variasi bunuh diri.
Weber menggabungkan sejarah, perbandingan, dan pemahaman makna tindakan.
Antropolog melakukan pengamatan lapangan dalam waktu lama untuk memahami kehidupan masyarakat.
Sejarawan memeriksa arsip dan dokumen untuk merekonstruksi peristiwa masa lalu.
Ekonom kelembagaan mempelajari aturan, organisasi, dan insentif yang membentuk tindakan manusia.
Ekonomi eksperimental dan penelitian dampak menggunakan eksperimen untuk menilai apakah suatu intervensi benar-benar menghasilkan perubahan.
Semua pendekatan tersebut memiliki keterbatasan.
Namun, mereka mempunyai kesamaan: berusaha menghubungkan teori dengan bukti mengenai kenyataan.
Mereka tidak berhenti pada skor persepsi.
Mereka berusaha mengetahui apa yang sungguh-sungguh terjadi.
Ilmu Bukan Ritual Metodologis
Ilmu tidak ditentukan oleh banyaknya variabel.
Ilmu tidak ditentukan oleh rumitnya model statistik.
Ilmu tidak ditentukan oleh penggunaan istilah asing.
Ilmu tidak ditentukan oleh jumlah halaman metodologi.
Ilmu juga tidak ditentukan oleh apakah penelitian diberi label kuantitatif, kualitatif, atau mixed method.
Ilmu ditentukan oleh hubungan yang logis antara masalah, teori, metode, data, analisis, dan kesimpulan.
Pertanyaan harus jelas.
Data harus relevan.
Metode harus tepat.
Analisis harus logis.
Kesimpulan tidak boleh melampaui bukti.
Penjelasan harus terbuka terhadap kritik dan pengujian ulang.
Apabila unsur-unsur tersebut tidak terpenuhi, penelitian tetap tidak ilmiah meskipun dilengkapi perangkat lunak statistik paling canggih.
Penutup
Ilmu sosial lahir dari keberanian manusia meninggalkan spekulasi dan mulai mempelajari masyarakat berdasarkan kenyataan.
Comte menghendaki masyarakat dipelajari secara ilmiah.
Marx mengungkap hubungan produksi dan kekuasaan.
Durkheim meneliti fakta sosial.
Weber menjelaskan tindakan sosial melalui sebab dan makna.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa ilmu sosial seharusnya terus bergerak menuju kemampuan yang lebih baik dalam mengungkap misteri masyarakat.
Namun, perkembangan mutakhir menunjukkan gejala sebaliknya.
Dalam banyak penelitian, ilmu sosial makin ke sini bukan semakin mampu mengungkap dan menjelaskan misteri fakta sosial.
Ia justru berubah menjadi pembuktian hipotesis artifisial atas opini dan persepsi yang tidak menjelaskan apa-apa.
Peneliti menciptakan variabel.
Peneliti menciptakan indikator.
Peneliti menciptakan pernyataan.
Peneliti menciptakan skor.
Peneliti menciptakan hipotesis.
Kemudian, peneliti menyatakan berhasil membuktikan hubungan antara ciptaan-ciptaannya sendiri.
Penelitian selesai, tetapi kenyataan tetap menjadi misteri.
Ilmu sosial akhirnya menghasilkan angka tanpa penjelasan, korelasi tanpa mekanisme, hipotesis tanpa penemuan, dan kesimpulan tanpa pengetahuan baru.
Karena itu, ilmu sosial harus dikembalikan kepada fakta sosial.
Pendapat harus disebut pendapat.
Persepsi harus disebut persepsi.
Sikap harus disebut sikap.
Fakta harus diperiksa sebagai fakta.
Korelasi tidak boleh disamakan dengan sebab-akibat.
Signifikansi statistik tidak boleh disamakan dengan penjelasan ilmiah.
Hipotesis tidak boleh menjadi tujuan akhir penelitian.
Tujuan ilmu adalah mengungkap sesuatu yang belum diketahui, menjelaskan mengapa peristiwa terjadi, menemukan mekanisme yang bekerja, dan menghasilkan pengetahuan yang dapat diuji, dikritik, serta diperbaiki.
Ilmu sosial yang baik bukan ilmu yang paling ramai variabelnya.
Bukan pula ilmu yang paling rumit statistiknya.
Ilmu sosial yang baik adalah ilmu yang mampu membuat kenyataan sosial yang sebelumnya gelap menjadi lebih terang.
Bukan menciptakan dunia variabel artifisial, lalu menganggap hubungan statistik di antara variabel tersebut sebagai penjelasan tentang masyarakat.





