BPJS Defisit 2 Triliun per Bulan, Sejumlah Mall Tinggikan Pagar, dan Aktivitas Manufaktur Kembali Naik

SOSIAL

1. Setiap bulan, BPJS Kesehatan mengalami defisit sekitar Rp 2 triliun. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito hari ini mengungkapkan, defisit sebesar itu terjadi akibat dari sekitar 54 juta orang peserta tidak membayar atau menunggak iuran, sementara seluruh peserta sebanyak 285 juta jiwa.

Prihati memaparkan, BPJS Kesehatan membutuhkan sekitar Rp 500 miliar per hari atau Rp16,5 triliun per bulan untuk layanan kesehatan, sedangkan iuran yang masuk hanya berkisar Rp 14 triliun per bulan. Ia mengaku tengah menjalin kerja sama dengan sejumlah kementerian dan lembaga untuk meningkatkan kepatuhan peserta membayar iuran. Salah satu ide yang ia lontarkan adalah kepesertaan aktif BPJS Kesehatan menjadi syarat mengurus SIM dan paspor.

2. Sekitar 33.000 calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih telah dinyatakan lulus dari pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) pekan lalu. Menurut Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, sebanyak 1.021 koperasi sudah mulai beroperasi dan akan menjadi lokasi penempatan para manajer lulusan SPPI.

Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Isnawati Hidayah mengkritik perencanaan pemerintah dalam pengelolaan koperasi. Jumlah lulusan SPPI yang jauh melebihi jumlah koperasi yang sudah beroperasi menunjukkan perencanaan yang tidak didahului dengan studi. Selain itu, kata Isnawati, menimbulkan pemborosan anggaran karena harus membayar gaji manajer tapi mereka tidak bekerja.

3. Sejumlah pusat perbelanjaan atau mal di Jakarta membangun pagar pengaman tinggi di sekelilingnya. Gubernur DKI Pramono Anung menduga tindakan tersebut mungkin karena peristiwa unjuk rasa besar di Jakarta pada Agustus 2025 yang menewaskan beberapa orang. Pramono mengaku sudah berkoordinasi dengan Polri dan TNI untuk menjaga keamanan dan ketertiban di Jakarta.

Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi Komjen Pol Fadil Imran menilai, pemasangan pagar oleh pemilik properti seperti mal merupakan hal wajar. Namun, berdasarkan laporan harian yang masuk Polri, kata Fadil, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.

EKONOMI

1. Aktivitas manufaktur Indonesia yang dicerminkan oleh Purchasing Managers’ Index (PMI) kembali ke zona ekspansif (di atas 50) pada Juli 2026, setelah sempat terkontraksi pada Juni. S&P Global melaporkan, PMI Indonesia berada di 50,2, naik dibanding 46,9 pada Juli.

Volume produksi kembali mencatat pertumbuhan setelah turun selama 4 bulan berturut-turut. Namun, pertumbuhannya masih relatif terbatas. Peningkatan umumnya didorong membaiknya kondisi permintaan. Namun, kenaikan harga bahan baku masih membatasi potensi ekspansi produksi lebih kuat.

Sentimen positif juga terjadi pada jumlah volume pesanan baru yang stabil setelah terkontraksi cukup tajam pada Juni. Perusahaan mencatat peningkatan penjualan, dan mengaitkannya dengan meningkatnya kepercayaan pelanggan serta peluncuran proyek-proyek baru.

Pada saat yang sama, perusahaan tercatat positif menambah jumlah tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam 5 bulan, meskipun kenaikannya masih relatif terbatas.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai peningkatan PMI Juli lebih mencerminkan stabilisasi aktivitas produksi ketimbang pemulihan yang ditopang solidnya permintaan. Menurut dia, laju ekspansi manufaktur masih sangat terbatas. Di sisi lain, pesanan ekspor masih terus melemah selama 5 bulan berturut-turut sehingga menjadi sinyal permintaan eksternal belum pulih.

Menurut Yusuf, agar momentum tidak bersifat sementara, perlu kebijakan pemerintah yang mampu menekan biaya produksi sekaligus memperkuat permintaan. Antara lain implementasi harga gas bumi tertentu yang kompetitif dan kepastian pasokan energi.

Juga peningkatan penggunaan produk dalam negeri dalam belanja pemerintah, serta memperkuat daya saing ekspor melalui perbaikan efisiensi logistik dan perluasan akses pasar.

2. Neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit USD 450 juta. Ini defisit kedua kalinya tahun ini, setelah Mei lalu defisit USD 1,61 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menjelaskan, defisit terjadi karena komoditas migas masih mencatat defisit USD 3,49 miliar. Sementara, komoditas nonmigas mencatat surplus USD 3,04 miliar.

Secara kumulatif sepanjang Januari-Juni 2026, neraca perdagangan masih membukukan surplus USD 3,58 miliar. Namun, jauh lebih rendah dibandingkan Januari-Juni 2025 yang surplus USD 19,60 miliar.

3. BPS melaporkan indeks harga konsumen (IHK) pada Juli 2026 menunjukkan deflasi 0,14% dibandingkan Juni (mtm), berbalik dari inflasi 0,44% pada Juni. Secara tahunan (yoy), menunjukkan inflasi sebesar 2,88%, melandai dibanding 3,3% (yoy) pada Juni.

Sementara, inflasi tahun kalender sebesar 1,65%. Penyumbang deflasi bulanan terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan deflasi 0,89% dan andil deflasi 0,26%.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 0,25% dengan andil inflasi 0,05%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah bensin.

Komponen harga bergejolak mengalami deflasi 1,68% dengan andil deflasi 0,28 persen. Komoditas penyumbang: bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, jeruk, semangka, dan sawi hijau.

Komponen inti mengalami inflasi 0,14% dengan andil inflasi 0,09%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi komponen inti adalah biaya SD, sepeda motor, pelumas/oli mesin, biaya TK, telepon seluler, dan bimbingan belajar.

TRENDING MEDSOS

1. Kata “Pertamina” banyak dicari di Google. Harga BBM nonsubsidi Pertamina turun sejak 1 Agustus 2026. Harga Pertamax dari Rp 16.250/liter menjadi Rp 15.950, Pertamax Green dari Rp 17.000 menjadi Rp 16.600, Pertamax Turbo dari Rp 19.300 menjadi Rp 18.300. Sementara Pertalite, Dexlite, Pertamax Dex, dan Biosolar tetap.

2. Nama “Yandri Susanto” trending di X hari ini bersama-sama kata “KDKMP”. Mendes PDT Yandri Susanto membantah konten yang menampilkan sosok dirinya menyebut bahwa dalam radius 2 km dari Kopdes/kel Merah Putih dilarang ada kios dan toko kelontong.

HIGHLIGHTS

1. Sejumlah mal di Jakarta dan Surabaya membangun atau menambah pagar pengaman. Pagar, baik untuk rumah maupun properti lainnya, memang dimaksudkan demi pengamanan, selain demi estetika. Seberapa kuat dan tinggi pagar, tentulah ditentukan oleh persepsi rasa aman pemiliknya.

Terkait penambahan pagar pengaman di mal, tentulah tak lepas dari pengalaman soal keamanan dan ketertiban di masa lalu, dengan ingatan paling segar adalah demo dan rusuh Agustus tahun lalu. Berdasarkan pengalaman itu, meskipun aparat Polri dan TNI hadir, tapi tak bisa menjamin pendemo atau perusuh tidak menyasar mal.

2. Pemulihan PMI manufaktur ke zona ekspansif patut disambut sebagai kabar baik, tetapi belum cukup menjadi alasan untuk menyimpulkan bahwa tekanan ekonomi telah berlalu. Ekspansi yang terjadi masih sangat tipis, permintaan ekspor belum pulih, sementara surplus perdagangan menyusut tajam dibanding tahun lalu hingga bahkan kembali mencatat defisit bulanan. Deflasi Juli juga perlu dibaca dengan hati-hati. Di satu sisi membantu meredakan tekanan harga, tetapi di sisi lain dapat mencerminkan masih lemahnya permintaan pada sejumlah komoditas.

Di tengah kondisi ini, tantangan utama bukan sekadar menjaga stabilitas makro, melainkan memastikan sektor riil kembali bergerak melalui biaya produksi yang lebih kompetitif, kepastian energi, serta penguatan pasar domestik dan ekspor.

Kabar baiknya, tanda tanda perbaikan mulai muncul dari meningkatnya produksi, pesanan baru, dan penyerapan tenaga kerja di manufaktur. Jika momentum kecil ini dijaga dengan kebijakan yang tepat dan konsisten, ia dapat menjadi pijakan awal menuju pemulihan yang lebih kokoh, bukan sekadar jeda sementara di tengah perlambatan.

SUMBER

BRIEF UPDATE
Kerjasama MAKPI dengan BDS Alliance
Senin, 3 Agustus 2026

Avatar photo

Makpi Support

Articles: 1021

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *