Pembaca, edisi Brief Update hari ini menyajikan isu yang mengemuka belakangan ini.
ANTARA PIDATO DAN HASIL SURVEI
Dalam konferensi pers APBN KiTa 21 Juli lalu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di level 5,6% menunjukkan kondisi perekonomian secara agregat berada dalam keadaan baik.
Publik justru menilai berbeda. Berdasarkan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), sebanyak 37,9% publik menilai kondisi ekonomi nasional dalam keadaan buruk, 11,5% publik menyatakan sangat buruk. Total sebanyak 49,4% publik menilai kondisi ekonomi Indonesia buruk atau sangat buruk.
Hanya sebanyak 1,4% publik yang menyatakan kondisi ekonomi sangat baik, 14,3% menyatakan baik, dan 33,9% menyatakan sedang saja alias tidak baik tidak buruk.
Survei nasional tersebut dilakukan pada 5-19 Juli 2026, dengan populasi seluruh warga Indonesia yang punya hak pilih. Sebanyak 749 dari mereka dipilih secara random. Survei dilakukan dengan wawancara melalui telepon dan tatap muka. Adapun margin of error survei ini sebesar +/- 3,7%.
Penilaian negatif publik terhadap kondisi ekonomi nasional cenderung menguat dalam beberapa waktu belakangan. Berdasarkan survei SMRC pada November 2025, sebanyak 40% publik menyatakan kondisi ekonomi sangat baik/baik, kemudian pada Maret 2026 berubah menjadi 26,3%, dan Juli ini tinggal 15,7%.
Di sisi lain, publik yang menilai kondisi ekonomi buruk kian meningkat. Pada November 2025 sebanyak 22,7%, kemudian Maret 2026 menjadi 31,7%, dan Juli ini menjadi 49,4%.
Survei tersebut juga memotret penilaian publik terhadap kondisi politik dan penegakan hukum. Secara umum penilaian publik tak jauh beda dengan penilaian terhadap kondisi ekonomi, yakni cenderung memburuk sejak November 2025.
Penilaian publik terhadap kinerja Presiden Prabowo pun mengalami kecenderungan yang sama dengan penilaian terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum.
Pada November 2025 sebanyak 81,2% publik merasa sangat puas/puas dengan kinerja Presiden. Ini setelah setahun Prabowo sebagai presiden. Namun, pada Maret 2026 publik yang menyatakan hal sama, turun menjadi 66,4% dan Juli ini 51,1%.
Sebaliknya, publik yang tidak puas terhadap kinerja Presiden meningkat. Pada November 2025 cuma 16%, kemudian meningkat menjadi 31,7% pada Maret 2026, dan Juli ini menjadi 46,9%.
Setelah SMRC resmi merilis hasil survei tersebut, sebentar kemudian beredar di media sosial dokumen soft copy berjudul Laporan Survei Nasional “Kondisi Ekonomi, Sosial, Politik dan Pemerintahan” periode survei 14-24 Juli 2026, yang dibuat oleh lembaga survei Indikator. Hasil survei ini menunjukkan kecenderungan yang sama dengan hasil dari SMRC.
Namun, pada 28 Juli lalu, Direktur Lembaga survei Indikator Politik Indonesia, Fauny Hidayat, mengeluarkan pernyataan bahwa lembaganya tidak pernah merilis atau mempublikasikan hasil survei nasional yang dilakukan pada periode Juli 2026 tersebut. Dia tidak menjelaskan apakah Indikator melakukan survei itu.
Merespons hasil survei SMRC tersebut, pada 30 Juli lalu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa pemerintah bekerja bukan dalam rangka demi survei. Ia yakin program-program yang dibawa Presiden Prabowo adalah baik untuk masyarakat. ()
‘MANTAB’ SUDAH LEWAT, DATANGLAH ‘MATANG’
Masyarakat Indonesia tak lagi hanya “mantab”, tapi juga “matang”. Ya, masyarakat tak lagi makan tabungan (mantab), melainkan sudah juga makan utang (matang). Untuk memenuhi kebutuhan hidup, warga Indonesia mulai banyak menggunakan fasilitas pinjaman, seperti kartu kredit, paylater, dan pinjaman online (pinjol).
Berdasarkan laporan Daily Economic and Market Bank Mandiri, daya beli masyarakat mampu tumbuh positif pada Juni 2026, tercermin dari Mandiri Spending Index yang menunjukkan tingkat belanja masyarakat mencapai level 123, tumbuh 5,9% (yoy). Sekilas, konsumsi rumah tangga masih baik-baik saja. Namun, pada saat yang sama Mandiri Saving Index mengalami kontraksi 5,7% (yoy) menjadi 84,8.
Saat indikator tabungan turun dan konsumsi terjaga, indeks pinjaman yang mencakup pinjaman online, kartu kredit, dan paylater justru naik hingga 24,6% (yoy), di 157,7. Dalam laporannya, tim ekonom Bank Mandiri menyebut konsumsi rumah tangga masih bertahan, namun semakin ditopang oleh pembiayaan di tengah melemahnya tingkat tabungan.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total outstanding pinjol, kartu kredit, dan paylater telah mencapai Rp 160,7 triliun pada Mei 2026. Dari jumlah tersebut, 65% di antaranya atau Rp 103,7 triliun adalah pinjaman online. Sementara, outstanding kartu kredit Rp 43,8 triliun (27%), dan buy now pay later (BNPL) Rp 13,2 triliun (8%).
Selain pinjaman online yang paling dominan, yang perlu diwaspadai adalah tren peningkatan pembiayaan BNPL yang disalurkan perusahaan pembiayaan. Per Mei 2026 nilai BNPL tumbuh 53,78% (yoy) menjadi Rp 13,18 triliun. Outstanding BNPL didominasi pembiayaan konsumsi dengan nilai Rp 12,26 triliun atau 93,01% dari total outstanding BNPL.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kondisi yang kelihatan baik-baik saja, ternyata menyimpan persoalan yang cukup mengkhawatirkan. Di balik data belanja rumah tangga yang positif, ternyata sebenarnya tekanan hidup masyarakat masih tinggi.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin tercipta siklus gali “lubang tutup lubang”. Apalagi saat ini, ketika suku bunga acuan sudah naik 100 bps sejak April, dan kemungkinan akan bertahan di level tinggi.
Beban utang yang tak sebanding dengan pendapatan, membuat masyarakat semakin terjebak pada penggunaan utang yang kian lama kian besar.
Yang semakin mengkhawatirkan dari perekonomian kita bukan semata perlambatan pertumbuhan, melainkan makin lebarnya jarak antara angka makro dan pengalaman hidup masyarakat. Pemerintah dapat menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi, tetapi survei demi survei memperlihatkan publik semakin pesimistis terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum.
Data perbankan memberi petunjuk mengapa hal itu terjadi. Konsumsi masih bertahan, tetapi tabungan terus menyusut, sementara utang konsumtif melalui pinjol, kartu kredit, dan paylater melonjak tajam. Rumah tangga bukan lagi membelanjakan hasil peningkatan pendapatan, melainkan mempertahankan daya beli dengan menggerus bantalan keuangan dan menambah kewajiban baru. Pola seperti ini tidak dapat menjadi fondasi pertumbuhan yang sehat karena pada akhirnya akan mengikis ketahanan ekonomi masyarakat sendiri.
Meski demikian, masih ada ruang untuk membalik keadaan. Tingkat konsumsi yang tetap terjaga, menunjukkan aktivitas ekonomi belum kehilangan tenaga sepenuhnya. Tantangannya kini bukan sekadar mendorong belanja, melainkan memulihkan kepercayaan publik melalui penciptaan lapangan kerja yang berkualitas, penguatan daya beli berbasis pendapatan, serta kebijakan yang konsisten sehingga pertumbuhan ekonomi kembali dirasakan, bukan hanya diumumkan. ()
TRENDING MEDSOS
1. Nama Nasirun trending di Google Trends. Maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, pagi ini meninggal dunia dalam usia 60 tahun di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Nasirun dikenal mampu memadukan spiritualitas tasawuf dengan konteks masa kini. Itu yang membuat karyanya memiliki kedalaman makna yang kuat.
2. Kata “Monas” dengan Tagar #ZikirDanDoaKebangsaan trending di X hari ini. Kementerian Agama sore hari ini menggelar acara dzikir dan doa kebangsaan di kawasan Monas. Acara dihelat untuk menyambut HUT Kemerdekaan RI di bulan Agustus ini.
SUMBER
BRIEF UPDATE
Kerjasama MAKPI dengan BDS Alliance
Sabtu, 1 Agustus 2026





