EKONOMI
1. Presiden Prabowo mengeklaim, banyak negara tergantung pada pupuk dan beras Indonesia. Ia menjelaskan, gangguan distribusi energi akibat konflik Timur Tengah berdampak langsung pada produksi pupuk dunia karena bahan baku pupuk sangat bergantung pada minyak dan gas. Indonesia, kata dia, kini berada dalam posisi yang mampu membantu negara lain. Sejumlah negara seperti Australia, Filipina, India, Bangladesh, dan Brazil, telah meminta pasokan pupuk Indonesia. Begitu pula dengan beras.
Sebelumnya, Mentan Amran Sulaiman mengatakan, PM Australia Anthony Albanese berterima kasih kepada Presiden Prabowo karena menyetujui ekspor pupuk urea ke negerinya. Amran menjelaskan, ekspor perdana ke Australia yang dilepas Rabu lalu mencapai 47.250 ton pupuk urea senilai Rp 600 miliar. Ekspor tersebut merupakan tahap awal dari komitmen kerja sama 250.000 ton dan akan terus ditingkatkan hingga mencapai 500.000 ton dengan total nilai sekitar Rp 7 triliun.
2. Presiden Prabowo menanggapi pandangan pesimistis tentang ekonomi, termasuk pelemahan rupiah. Menurut dia, kondisi nasional masih relatif aman dibanding banyak negara lain. Masyarakat kecil, khususnya di desa-desa, kata dia, tak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi dolar AS selama kebutuhan dasar terpenuhi. Rakyat di desa tak pakai dolar, kata dia. Ancaman terbesar, menurut dia, justru muncul ketika pemegang kekuasaan tidak berpihak kepada rakyat.
Sebelumnya, Menkeu Purbaya meyakinkan masyarakat bahwa kondisi ekonomi saat ini masih jauh lebih baik dibanding krisis 1998, meski rupiah di atas Rp 17.500/USD. Ia mengatakan, fundamental ekonomi cukup kuat sehingga pelemahan rupiah bisa segera diperbaiki.
3. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, pelemahan rupiah bukan semata karena kurang efektifnya intervensi Bank Indonesia (BI). Intervensi BI, menurut dia, bersifat defensif agar pelemahan rupiah tak berubah jadi instabilitas sistemik. Menurut dia, tekanan rupiah berasal dari faktor struktural, seperti kekhawatiran investor terhadap konsistensi kebijakan dan persepsi risiko fiskal. Sehingga, intervensi moneter hanya bisa membeli waktu.
Menurut Yusuf, pasar mencermati 3 faktor. Pertama, arah fiskal pemerintah apakah menenangkan atau malah menimbulkan kekhawatiran investor. Kedua, konsistensi kebijakan pemerintah. Investor butuh kepastian dan sangat sensitif terhadap perubahan aturan karena berpengaruh pada prospek investasi jangka panjang. Dan ketiga, prospek arus modal masuk jangka menengah yang berkaitan erat dengan iklim investasi Indonesia.
POLITIK
1. Presiden Prabowo hari ini meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Marsinah bersama Soeharto dan sejumlah tokoh lainnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Prabowo pada 10 November 2025. Marsinah ditemukan tak bernyawa pada 8 Mei 1993, setelah dinyatakan hilang pada 5 Mei 1993 saat ia memimpin pemogokan buruh yang menuntut perbaikan pengupahan di pabrik tempat ia bekerja.
Sampai kini siapa pembunuh Marsinah masih misterius karena 9 terdakwa yang dituduh sebagai pembunuh Marsinah akhirnya dibebaskan oleh Mahkamah Agung karena mereka terbukti tidak bersalah. Kalangan buruh menduga aparat militer terlibat dalam pembunuhan itu, karena saat pemogokan terjadi, aparat militer setempat turun tangan menginterogasi pimpinan buruh.
2. Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menilai, kritik dari film “Pesta Babi” merupakan hal yang wajar, dan pro-kontra dapat terjadi. Menteri HAM Natalius Pigai menyatakan, pelarangan penayangan film itu harus dengan putusan pengadilan. Namun, pihak TNI, melalui Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Tri Purwanto, menyatakan narasi dalam film tersebut berisiko membenturkan masyarakat Papua dengan proyek strategis nasional pemerintah.
HUKUM
Seorang anggota TNI AD, Pratu F (23), tewas ditembak oleh rekan sesama prajurit, Sertu RN (23), karena diduga mereka bersenggolan saat berjoget di sebuah kafe di Palembang, Sumatera Selatan, dini hari ini. Menurut polisi setempat, urusan itu diambil alih POM TNI.
TRENDING MEDSOS
1. Kata “Ekonomi” trending di X. Warganet menyoroti kondisi ekonomi, terutama soal anjloknya nilai tukar rupiah. Pembicaraan mulai dari pernyataan anak Menkeu Purbaya yang menyebut ekonomi Indonesia dikelola dengan kebijakan moneter dan fiskal yang salah, hingga pernyataan Presiden Prabowo bahwa masyarakat desa tak pakai dolar.
2. Kata “PM Australia” trending di X terkait telepon PM Australia Anthony Albanese ke Presiden Prabowo. Albanese mengucapkan terima kasih atas persetujuan ekspor pupuk dari Indonesia. Dalam sambutannya saat meresmikan Museum Marsinah hari ini, Prabowo juga memuji Kementerian Pertanian yang sudah mewujudkan swasembada pangan.
3. “Krisis” menjadi salah satu kata kunci yang dicari di Google. Nilai tukar rupiah jatuh ke level terendah sepanjang sejarah, tembus Rp 17.600/USD.
HIGHLIGHT
Pernyataan Presiden bahwa rakyat desa “tidak memakai dolar” memang menangkap satu kenyataan: sebagian besar warga hidup dalam ekonomi domestik yang tidak bertransaksi langsung dengan valuta asing. Namun persoalannya bukan pada apakah rakyat memegang dolar atau tidak, melainkan bahwa pelemahan rupiah perlahan merembes ke harga pupuk, pangan, logistik, energi, hingga biaya produksi sehari-hari. Ketika daya beli melemah sementara pendapatan stagnan, rakyat kecil tetap menjadi pihak yang paling menanggung dampaknya. Di titik inilah, pasar melihat persoalan yang lebih dalam: bukan sekadar gejolak global, tetapi kekhawatiran terhadap konsistensi arah kebijakan, disiplin fiskal, dan kepastian investasi. Intervensi moneter hanya mampu membeli waktu; kepercayaan tidak bisa dibangun lewat retorika semata. Ironisnya, di tengah tekanan itu, negara justru memperlihatkan paradoks: di satu sisi rupiah terpuruk dan publik cemas, di sisi lain Indonesia mulai diakui sebagai pemasok pangan dan pupuk regional. Ada sinyal bahwa kapasitas produksi nasional sebenarnya tumbuh. Tetapi tanpa tata kelola yang konsisten, keberhasilan ekspor dan swasembada mudah berubah menjadi sekadar kebanggaan simbolik yang tidak sepenuhnya terasa di meja makan rakyat. Tantangan utamanya kini bukan hanya menjaga stabilitas angka-angka makro, melainkan memastikan bahwa keberhasilan ekonomi benar-benar diterjemahkan menjadi rasa aman sosial bagi masyarakat luas.
SUMBER
BRIEF UPDATE
Kerjasama MAKPI dengan BDS Alliance
Sabtu, 16 Mei 2026





