PELAJARAN 107
SURVEI KEPUASAN MBG ADALAH MENGUKUR RESPONS PSIKOLOGIS RESPONDEN, BUKAN MENGUKIR FAKTA EMPIRIK PROGRAM MBG ITU SENDIRI
Oleh Hanif Nurcholis
Pengajar Filsafat Ilmu Pengetahuan & Ilmu Logika/Mantiq
Belakangan ini muncul beberapa hasil survei mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tiga lembaga survei—SMRC, Indikator Politik Indonesia, dan Poltracking Indonesia—menghasilkan angka yang berbeda-beda.
Indikator Politik Indonesia, melalui survei 15–21 Januari 2026, menemukan 72,8% responden menyatakan puas terhadap MBG.
SMRC, melalui survei 5–19 Juli 2026, memperoleh hasil yang hampir berlawanan: hanya 33,8% menyatakan puas, sedangkan 61,6% menyatakan kurang atau tidak puas.
Poltracking, melalui survei 14–20 Agustus 2026, memperoleh 46,4% puas dan 49,2% tidak puas.
Pertanyaannya: apakah angka-angka tersebut merupakan fakta empiris tentang keberhasilan atau kegagalan MBG?
Jawabannya: bukan.
Angka tersebut adalah fakta psikologis jawaban responden terhadap pertanyaan survei, bukan fakta empiris mengenai kondisi objektif Program MBG itu sendiri.
1. APA YANG SEBENARNYA DIUKUR?
Perhatikan jenis pertanyaan yang diajukan dalam survei.
Kurang lebih responden ditanya:
“Apakah Ibu/Bapak sangat puas, cukup puas, kurang puas, atau tidak puas sama sekali terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis?”
Pilihan jawabannya adalah:
sangat puas – cukup puas – kurang puas – tidak puas sama sekali.
Apa yang sedang diukur?
Bukan kadar protein makanan.
Bukan kandungan vitamin.
Bukan kebersihan makanan.
Bukan ketepatan sasaran penerima.
Bukan jumlah anak yang mengalami perbaikan status gizi.
Bukan efisiensi penggunaan APBN.
Yang diukur adalah perasaan, persepsi, penilaian, atau evaluasi subjektif responden.
Dengan demikian, apabila 72,8% responden menjawab puas, fakta yang diperoleh adalah:
72,8% responden dalam sampel menyatakan dirinya puas terhadap MBG.
Itu adalah fakta psikologis responden. Semua responden tidak ada yang melihat kegiatan MBG secara riil. Opini respoden lebih bersifat khayali saja.
Karena itu, fakta berupa isian responden tersebut adalah respons psikologisnya, bukan fakta empirik obyektif MBG itu sendiri.
2. JANGAN MENCAMPURKAN DUA REALITAS YANG BERBEDA
Dalam penelitian harus dibedakan dua objek.
A. Realitas subjektif
Misalnya:
puas;
tidak puas;
percaya;
tidak percaya;
suka;
tidak suka;
setuju;
tidak setuju;
ingin program dilanjutkan;
ingin program dihentikan.
Semua itu berada pada wilayah kesadaran dan evaluasi subjektif manusia.
B. Realitas objektif program
Fakta empirik MBG tidak sama dengan khayalan responden tentang MBG.
Misalnya:
berapa gram protein setiap porsi MBG;
berapa kandungan karbohidrat, vitamin, dan mineralnya;
berapa harga riil setiap porsi;
berapa persen makanan tidak memenuhi standar;
berapa kasus keracunan;
berapa persen penerima yang tepat sasaran;
berapa perubahan berat dan tinggi badan anak;
berapa penurunan prevalensi anemia;
berapa perubahan kehadiran siswa;
berapa perubahan prestasi belajar;
berapa kebocoran anggarannya.
Itulah fakta empiris mengenai MBG.
Keduanya tidak boleh dicampuradukkan.
3. ANGKA YANG BERASAL DARI OPINI SELAMANYA TIDAK BISA BERUBAH MENJADI DATA EMPIRIK OBJEKTIF
Terjadi kekeliruan dalam penelitian sosial.
Jawaban:
sangat puas – puas – kurang puas – tidak puas
kemudian diberi angka, dihitung frekuensinya, lalu dibuat persentase diyakini sebagai fakta empirik.
Misalnya:
72,8% puas.
Karena sudah berbentuk angka, orang kemudian mengira data tersebut telah menjadi fakta objektif mengenai program. Padahal itu adalah angka dari opini subyektif resonden.
Mengapa bukan angka faktual obyektif?
Karena yang dilakukan hanyalah mengkuantifikasi respons subjektif responden.
Angkanya memang numerik. Tetapi sesuatu yang dihitung tetaplah opini, persepsi, dan evaluasi subjektif responden.
Kalau 727 dari 1.000 orang mengatakan “saya puas”, kita memang memperoleh fakta bahwa 727 orang memberikan jawaban puas.
Tetapi kita belum memperoleh fakta bahwa makanan tersebut bergizi baik, anggarannya efisien, distribusinya tepat sasaran, atau kesehatan anak membaik.
4. CONTOH PALING JELAS DARI SURVEI INDIKATOR
Survei Indikator menemukan sekitar 72,8% responden puas terhadap MBG.
Tetapi dalam survei yang sama, tidak semua responden merupakan keluarga penerima MBG.
Ini sangat penting.
Orang yang tidak pernah menikmati MBG secara langsung pun dapat mengatakan:
“Saya puas.”
Mengapa?
Karena jawabannya dapat dibentuk oleh:
berita televisi;
media sosial;
pidato pemerintah;
pengalaman teman;
preferensi politik;
citra Presiden;
berita tentang keberhasilan program;
atau sebaliknya berita tentang keracunan.
Jadi, yang sedang bekerja di sini adalah opini dan persepsi yang sangat subyektif.
Opini dan persepsi adalah fenomena psikologis. Maka jangan kemudian dipindahkan begitu saja menjadi fakta objektif mengenai kualitas program.
5. POLTRACKING BAHKAN MENGUKUR KONSTRUK YANG BERBEDA
Dalam infografis media, angka Poltracking 44,6% dan 42,1% diletakkan berdampingan dengan hasil survei kepuasan SMRC dan Indikator.
Padahal pertanyaannya berbeda.
Angka tersebut berkaitan dengan:
MBG tidak perlu dilanjutkan versus MBG perlu dilanjutkan.
Ini bukan lagi variabel kepuasan.
Ini variabel preferensi kebijakan.
Artinya:
puas–tidak puas ≠ lanjut–tidak lanjut.
Seseorang bahkan mungkin menjawab:
“Saya tidak puas terhadap pelaksanaannya sekarang, tetapi programnya harus tetap dilanjutkan dan diperbaiki.”
Secara logika itu sangat mungkin.
Karena itu, menempatkan kedua jenis jawaban tersebut dalam satu grafik sebagai seolah-olah mengukur objek yang sama sudah mengandung persoalan metodologis.
6. WAKTU SURVEI JUGA BERBEDA
Ketiga survei juga dilakukan dalam periode berbeda:
Indikator: Januari 2026.
SMRC: Juli 2026.
Poltracking: Agustus 2026.
Maka jawaban responden bisa berubah karena lingkungan informasi berubah.
Hari ini orang membaca berita:
“MBG sukses.”
Besok muncul berita:
“Puluhan siswa keracunan.”
Kemudian muncul lagi berita:
“MBG meningkatkan ekonomi lokal.”
Persepsi masyarakat dapat bergerak mengikuti informasi tersebut.
Karena itulah opini publik bersifat relatif mudah berubah.
Sebaliknya, kandungan protein suatu makanan tidak berubah hanya karena Presiden sedang populer atau tidak populer.
7. DI SINILAH TERJADI KEKELIRUAN INFERENSI/NATIJAH/KESIMPULAN
Misalnya hasil survei berbunyi:
72,8% responden puas terhadap MBG.
Kesimpulan yang sah adalah:
Mayoritas responden survei tersebut menyatakan puas terhadap MBG pada saat survei dilakukan.
Selesai.
Tetapi jika kemudian disimpulkan:
Karena 72,8% rakyat puas, berarti MBG berhasil.
Ini sudah merupakan lompatan inferensi.
Lebih jauh lagi:
72,8% puas → MBG berhasil → gizi anak meningkat.
Ini semakin jauh.
Karena tidak ada data status gizi anak dalam premis tersebut.
Dalam ilmu logika/mantiq, kesimpulan tidak boleh melampaui informasi yang terdapat dalam premis.
Karena itu, menjadikan survei kepuasan sebagai pembuktian keberhasilan objektif suatu program merupakan bentuk mughālaṭah/logical fallacy apabila dilakukan untuk meyakinkan publik seolah-olah telah terbukti ilmiah mengenai keberhasilan program.
Hal yang sama berlaku sebaliknya.
SMRC menemukan 61,6% kurang atau tidak puas.
Kita juga tidak boleh mengatakan:
Karena 61,6% tidak puas, maka MBG secara ilmiah terbukti gagal.
Itu sama salahnya.
8. POPULARITAS BUKAN EFEKTIVITAS
Inilah prinsip metodologis yang harus dipahami.
Kepuasan bukan efektivitas.
Popularitas bukan keberhasilan.
Persepsi bukan kinerja.
Opini bukan outcome program.
Suatu kebijakan dapat populer tetapi secara objektif buruk.
Sebaliknya, suatu kebijakan dapat tidak populer pada tahap awal tetapi secara objektif memberikan manfaat jangka panjang.
Karena itu penelitian kebijakan publik tidak boleh berhenti pada pertanyaan:
“Apakah masyarakat puas?”
Pertanyaan ilmiah yang lebih penting adalah:
Apa akibat nyata program tersebut terhadap objek yang menjadi sasaran kebijakan?
9. KALAU MAU MENGETAHUI MBG BERHASIL, UKURLAH MBG
Kalau pemerintah ingin mengetahui keberhasilan MBG, lakukan penelitian terhadap fakta MBG.
Misalnya:
Input
Berapa APBN yang digunakan?
Berapa biaya per porsi?
Berapa jumlah dapur?
Berapa tenaga yang terlibat?
Process
Apakah makanan dimasak sesuai standar?
Apakah distribusinya tepat waktu?
Apakah pengadaan bahan transparan?
Apakah rantai pasok efisien?
Output
Berapa anak benar-benar menerima makanan?
Berapa kali seminggu?
Berapa kandungan gizi aktual per porsi?
Outcome
Apakah anemia menurun?
Apakah berat dan tinggi badan membaik?
Apakah konsentrasi belajar meningkat?
Apakah ketidakhadiran sekolah menurun?
Impact
Apakah prevalensi stunting menurun?
Apakah kualitas kesehatan generasi muda meningkat?
Apakah produktivitas jangka panjang meningkat?
Barulah dari data seperti itu dapat dibuat klaim:
MBG berhasil atau gagal.
10. JANGAN TERPESONA OLEH ANGKA DAN PERSENTASE
Di sinilah masyarakat perlu mempunyai literasi metodologi penelitian.
Ketika membaca:
72,8% puas.
Jangan langsung terkesima.
Tanyakan:
> 72,8% dari siapa?
> Ditanya apa?
> Kapan ditanya?
> Bagaimana sampelnya?
> Apakah mereka penerima program?
> Apa yang sebenarnya diukur?
Dan pertanyaan terpenting:
> Apakah variabel yang diukur berhubungan langsung dengan klaim yang hendak dibuat?
Angka yang sangat presisi tidak otomatis menghasilkan pengetahuan yang benar.
Kita dapat memperoleh angka 72,8%, 61,6%, atau 46,4% dengan sangat teliti.
Tetapi kalau yang diukur adalah opini, hasilnya tetap merupakan angka tentang opini.
KESIMPULAN
Survei SMRC, Indikator Politik Indonesia, dan Poltracking Indonesia sah sebagai survei opini dan persepsi publik.
Yang diperoleh adalah data mengenai:
apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dikehendaki responden terhadap MBG.
Tetapi survei tersebut bukan penelitian empiris langsung mengenai efektivitas Program MBG.
Karena itu jangan mengubah pernyataan:
> “72,8% responden menyatakan puas terhadap MBG.”
menjadi:
> “MBG terbukti berhasil.”
Dan jangan pula mengubah:
> “61,6% responden kurang atau tidak puas.”
menjadi:
> “MBG terbukti gagal.”
Kedua-duanya adalah kesalahan inferensi.
Survei kepuasan mengukur manusia yang sedang menilai MBG.
Evaluasi program mengukur MBG itu sendiri.
Inilah yang harus dibedakan dalam filsafat ilmu, metodologi penelitian, dan ilmu logika.
Jangan tertipu oleh angka.
Periksa terlebih dahulu: angka itu sebenarnya mengukur apa.
SUMBER
https://www.facebook.com/share/p/19MaHvHutG/





