Demo Agustus Sesama Rakyat Dibenturkan, Pidato Prabowo tak Sesuai Fakta, dan Masyarakat Makin Pesimis

Pembaca, edisi Brief Update hari ini menuliskan tentang peristiwa yang menonjol di bulan Agustus.

KEMBALINYA POLA MEMBENTURKAN SESAMA RAKYAT

Nahas menimpa Bambang Setiawan (59). Pedagang cermin itu tewas dalam peristiwa unjuk rasa yang berentet dengan rusuh Kamis malam, 27 Agustus 2026. Ia tidak ikut unjuk rasa ataupun rusuh.

Bambang keluar dari rumahnya yang berada di gang sempit di Jalan Pejompongan Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, untuk melihat suasana ribut yang terjadi di jalan raya tersebut.

Daerah Pejompongan – yang berjarak ratusan meter dari pusat unjuk rasa di depan Gedung DPR, Senayan – memang sudah biasa menjadi arena “keributan” setiap kali terjadi unjuk rasa di DPR. Faktor lokasi yang berdekatan dengan Senayan, dan kepadatan penduduk menjadi faktor Pejompongan selalu menjadi arena panas.

Di wilayah Pejompongan itu pula pengemudi ojol Affan Kurniawan tewas terlindas kendaraan taktis Brimob dalam unjuk rasa yang berlanjut rusuh pada Kamis malam, 28 Agustus 2025, yang berujung pada kerusuhan yang lebih masif dibandingkan peristiwa Kamis lalu.

Berbeda dengan kematian Affan yang dilindas kendaraan Brimob, Bambang Setiawan meninggal dunia gara-gara dikeroyok oleh sekelompok orang di dekat gang tak jauh dari rumahnya. Dari rekaman video yang beredar, terlihat para pengeroyok berasal dari kelompok tunggal, bukan orang per orang.

Kelompok ini menggunakan 5 truk bak terbuka yang datang beriringan kala hari mulai gelap, dan saat massa sedang diusir polisi supaya tidak menuju gedung DPR Senayan. Massa melakukan saling serang dengan polisi di kawasan Slipi, yang berdekatan dengan Pejompongan.

Setelah menurunkan massa berkaos hitam, truk-truk itu diparkir di Jalan S Parman, Slipi. Kelompok dari truk ini kemudian berada di posisi melawan massa yang dihalau polisi. Kelompok ini disebut berasal dari ormas Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, yang merupakan pendukung fanatik Presiden Prabowo. Lima truk itu lantas dirusak massa.

Namun, kemarin GRIB Jaya membantah terlibat dalam peristiwa rusuh di kawasan Slipi-Pejompongan. Kuasa hukum GRIB Jaya, Wilson Colling, mengaku tidak ada perintah dari Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules, kepada anggotanya untuk turun dalam demonstrasi pada Kamis.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan, pihaknya masih melakukan pendalaman untuk memastikan fakta di balik dugaan keterlibatan ormas tersebut.

Aparat polisi yang diterjunkan saat unjuk rasa tersebut, yang mencapai sekitar 4.000 personel, seharusnya sudah tahu pergerakan kelompok yang datang dengan menggunakan 5 truk itu. Karena, sejak Kamis pagi polisi melakukan pencegatan di sejumlah akses ke kawasan DPR.

Maka wajar publik curiga bahwa polisi membiarkan kelompok tersebut masuk area yang disekat. Kecurigaan ini diperkuat oleh sejumlah rekaman video yang menunjukkan polisi berada tak jauh dari rombongan truk yang membawa gerombolan tersebut.

Dari peristiwa 27 Agustus 2026 itu terkesan polisi sengaja membiarkan terjadi benturan kekerasan antara massa pemrotes dengan kelompok pendukung pemerintah.

Pola macam ini sudah terjadi pada 1998-1999 kala kalangan mahasiswa dan rakyat melakukan unjuk rasa di DPR menolak orang-orang Orde Baru tetap berkuasa, setelah Soeharto melepas jabatan presiden. Kelompok pro Orba ketika itu dinamakan Pamswakarsa.

Pengerahan kelompok Pamswakarsa ketika itu justru menambah semangat publik untuk melawan. ()

PIDATO PRESIDEN: ANTARA KLAIM DAN FAKTA

Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo di Sidang Tahunan MPR, 14 Agustus lalu, sangat mengesankan. Ia mengklaim sejumlah keberhasilan pemerintahannya sepanjang paruh pertama 2026.

“Ekonomi kita pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61% dan pada semester I-2026 tumbuh 5,45%. Ini adalah pertumbuhan kuartal I dan semester I tertinggi dalam 13 tahun terakhir,” kata dia. Dengan kondisi itu, ia optimistis pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2026 bisa mencapai 6%.

Keberhasilan tersebut, kata Prabowo, didukung investasi. Realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp 1.931 triliun dan menciptakan sekitar 2,7 juta lapangan kerja. Sementara realisasi semester I-2026 mencapai Rp 1.010 triliun dan menyerap 1,4 juta lapangan kerja.

Klaim tersebut memang tidak salah. Data yang disampaikan memang sesuai laporan Badan Pusat Statistik (BPS). Namun, peneliti Nalar Institute sekaligus Sekjen Konferensi Republik, Yanuar Nugroho, melihat yang disampaikan Prabowo dalam pidatonya, adalah ekonomi agregat dan korporatis, sementara pengalaman ekonomi rumah tangga nyaris tak muncul.

Menurut Yanuar, kalau tujuan akhir pembangunan ekonomi adalah kesejahteraan, seharusnya pidato kenegaraan juga mengajukan serentetan pertanyaan yang bersinggungan dengan ekonomi riil rumah tangga. Bagaimana upah riil? Bagaimana kualitas pekerjaan? Bagaimana daya beli kelas menengah? Bagaimana informalitas? Bagaimana household insecurity?

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, juga menekankan hal senada. Perhatian utama seharusnya juga menekankan kualitas pertumbuhan ekonomi. Sejauh mana angka pertumbuhan tersebut didorong, bukan hanya oleh kelompok ekonomi atas tapi juga menengah ke bawah.

Peneliti Celios, Nailul Huda, menilai terdapat kesenjangan antara klaim pertumbuhan ekonomi Prabowo dan kondisi yang dirasakan masyarakat sehari-hari. Ia melihat semua aspek perekonomian mengalami pelemahan cukup signifikan dalam 2 tahun terakhir. Mulai dari konsumsi masyarakat yang melambat, PHK yang terus meningkat, hingga kesulitan dalam akses ke pasar kerja.

Catatan para ekonom di atas sangat beralasan. Office of Chief Economist (OCE) Group BRI dalam laporan Quarterly Economic Outlook Q2-2026, menyebut ekonomi Indonesia lebih ditopang kelas atas.

Pada kuartal I-2026, estimasi pertumbuhan ekonomi kelas atas mencapai 8,0% (yoy), naik dari 6,5% pada 2025. Sebaliknya kelas bawah hanya sekitar 3,6%, dan kelas menengah lebih rendah lagi, 3,5%. Angka itu melemah dibanding pertumbuhan kelas menengah dan bawah selama 2023-2025 di kisaran 4,5%-4,9%.

Divergensi pertumbuhan tersebut sejalan dengan perkembangan indeks daya beli. Hingga April 2026, indeks daya beli kelompok bawah merosot menjadi -1,0, dari -0,6 pada April 2025. Indeks kelompok menengah turun dari -0,6 menjadi -0,9. Pada saat bersamaan, indeks daya beli kelas atas relatif stabil pada kisaran -0,1.

FENOMENA ‘MATANG’

Tekanan terhadap ekonomi masyarakat, terutama kelas menengah dan bawah, sangat terasa. Data Mandiri Spending Index menunjukkan indeks belanja naik ke 123, meningkat 5,9% (yoy). Sementara indeks tabungan turun ke 84,8, terkontraksi 5,7% yoy. Sedangkan indeks pinjaman yang mencakup pinjaman online, kartu kredit, dan paylater, justru naik hingga 24,6% (yoy), di 157,7.

Kombinasi ketiga indikator tersebut menunjukkan konsumsi masyarakat masih bertahan. Tapi, konsumsi bukan ditopang sepenuhnya oleh pendapatan riil, melainkan oleh pembiayaan alias utang. Fenomena ini dikenal juga sebagai “makan utang” alias “matang”. Tidak lagi sekadar “makan tabungan” alias “mantab”.

Hasil survei konsumen Bank Indonesia (BI) terkait kondisi keuangan konsumen periode Juli 2026, menunjukkan rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi turun dari 73% pada Juni, menjadi 72,7%. Begitu pula pendapatan untuk ditabung turun dari 17% menjadi 16,8%. Sementara untuk pembayaran cicilan/utang justru naik dari 10% menjadi 10,5% pada Juli.

Data tersebut mengindikasikan keuangan masyarakat yang semakin tertekan. Kemampuan untuk menabung semakin kecil, karena pendapatan tersedot untuk belanja dan meningkatnya pembayaran utang.

SEMAKIN PESIMISTIS

Berbeda dengan optimisme pidato Prabowo, masyarakat justru semakin pesimistis terhadap kondisi ekonomi. Hasil survei konsumen BI periode Juli 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di level 116,8. Memang masih di level optimistis (>100), namun melemah dibanding Juni yang di 117,8. Level ini merupakan penurunan beruntun dalam 3 bulan terakhir. Bahkan, terendah sejak September 2025.

Turunnya IKK Juli 2026 disebabkan merosotnya seluruh komponen pembentuk indeks, seperti Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 109,2 menjadi 107,9 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari 126,4 menjadi 125,7.

Turunnya persepsi terhadap kondisi saat ini dipicu turunnya Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama/Durable Goods (IPDG). IPSI turun dari 119,8 menjadi 118,5, IKLK turun dari 101,8 menjadi 101,1, dan IPDG dari 105,9 menjadi 104,1.

Dari data tersebut bisa disimpulkan bahwa meski pertumbuhan ekonomi cukup bagus, masyarakat justru pesimistis terhadap kondisi ekonomi. Optimisme yang ada semakin memudar, mulai dari penghasilan hingga ketersediaan lapangan kerja.

Presiden Prabowo mengklaim investasi semester I-2026 yang mencapai Rp 1.010 triliun telah menciptakan 1,4 juta lapangan kerja. Angka itu mungkin benar, tapi harus tetap dibaca secara kritis.

Data BPS menunjukkan pengangguran terbuka masih 4,65% pada Mei 2026. Data ketenagakerjaan menunjukkan upah rata-rata buruh sekitar Rp 3,33 juta. Per Mei 2026, jumlah penduduk yang bekerja di sektor informal mencapai 87,88 juta orang, atau 59,3% dari total 148,19 juta penduduk yang bekerja.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo optimistis pertumbuhan ekonomi 2026 akan sebesar 6%. Fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Angka makro penting, tetapi kesejahteraan pada akhirnya diukur dari pengalaman sehari-hari masyarakat. Tantangannya kini adalah memastikan pertumbuhan benar-benar diterjemahkan menjadi pekerjaan yang layak, pendapatan yang meningkat, serta institusi yang mampu membangun kembali kepercayaan publik. ()

TRENDING MEDSOS

1. “GRIB Jaya” masuk ke dalam daftar Google Trends hari ini. Ormas pimpinan Hercules itu banyak dicari terkait tewasnya pedagang cermin di Pejompongan, Bambang Setiawan (59), dalam ricuh demo 27 Agustus 2026. GRIB Jaya membantah terlibat kerusuhan demo, namun banyak video memperlihatkan keberadaan ormas tersebut di wilayah kerusuhan, termasuk kehadiran Hercules.

2. Kata-kata “Pejompongan”, “Ormas”, dan “Hercules” trending di X bersama-sama tagar #GribJayaAnarkis. Warganet membicarakan kehadiran Hercules dan anak buahnya dalam kerusuhan aksi demo 27 Agustus 2026.

SUMBER

BRIEF UPDATE
Kerjasama MAKPI dengan BDS Alliance
Sabtu, 29 Agustus 2026

Avatar photo

Makpi Support

Articles: 1050

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *