Ketika Lapangan Kerja Menyusut: Tantangan Terberat BPJS Ketenagakerjaan di Masa Depan (Bagian II)

Oleh : Chazali H Situmorang /Ketua DJSN 2010-2015/Ketua LPA Lafkespri

Ancaman Teknologi Sekaligus Peluang

Kecerdasan buatan dan otomatisasi sering dipandang sebagai ancaman terhadap lapangan pekerjaan.

Kekhawatiran itu cukup beralasan. Pekerjaan administratif rutin, pengolahan data sederhana, layanan pelanggan dasar, bahkan sejumlah pekerjaan profesional mulai mengalami perubahan akibat perkembangan teknologi.

Tetapi teknologi tidak selalu harus dipandang sebagai musuh. Bagi BPJS Ketenagakerjaan, teknologi justru dapat menjadi alat untuk menjangkau kelompok pekerja yang selama ini sulit disentuh.

Bayangkan apabila pendaftaran peserta dapat dilakukan hanya dalam beberapa menit melalui telepon seluler. Pembayaran iuran dapat disesuaikan dengan pola pendapatan pekerja. Pengingat pembayaran dilakukan secara otomatis. Platform digital dapat terhubung dengan sistem jaminan sosial. Data dapat digunakan untuk mengidentifikasi pekerja yang belum terlindungi.

Dengan cara itu, transformasi digital bukan hanya membuat pelayanan lebih cepat, tetapi juga dapat memperluas perlindungan.

Jadi, teknologi memang dapat menghilangkan sebagian jenis pekerjaan, tetapi pada saat yang sama teknologi juga dapat menjadi jembatan untuk membawa jutaan pekerja baru masuk ke dalam sistem jaminan sosial.

Tantangan Terbesarnya adalah Membuat Orang Merasa Membutuhkan Perlindungan

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting.

Sebagian pekerja informal atau pekerja mandiri masih memandang jaminan sosial sebagai pengeluaran, bukan kebutuhan.

Ketika pendapatan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, membayar iuran perlindungan sosial sering berada di urutan paling belakang.

Orang baru menyadari pentingnya perlindungan ketika kecelakaan sudah terjadi. Ketika penghasilan berhenti. Ketika usia sudah tidak produktif. Atau ketika pencari nafkah keluarga meninggal dunia.

Karena itu BPJS Ketenagakerjaan tidak cukup hanya mengatakan: “Silakan menjadi peserta.”

Pesan yang harus dibangun jauh lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat: “Selama Anda bekerja, Anda memiliki risiko. Selama ada risiko, Anda membutuhkan perlindungan.”

Ini bukan sekadar persoalan pemasaran. Ini adalah proses membangun kesadaran sosial.
Jaminan sosial harus hadir sebagai kebutuhan dasar pekerja, bukan sebagai kewajiban administratif.

Jangan Menunggu Pekerja Datang

Di tengah perubahan pasar kerja, strategi kepesertaan juga harus berubah. BPJS Ketenagakerjaan tidak dapat hanya menunggu pekerja atau perusahaan melakukan pendaftaran.

Sistem harus semakin aktif mendatangi ekosistem tempat pekerja berada: pasar tradisional, sentra UMKM, komunitas pengemudi, platform digital, koperasi, kelompok petani, nelayan, pekerja konstruksi, tenaga profesional, pekerja seni, pekerja rumah tangga, hingga berbagai kelompok pekerja yang selama ini berada di luar hubungan kerja formal.

Pendekatannya pun tidak dapat selalu sama. Pekerja kantoran memiliki pola penghasilan berbeda dengan petani. Petani berbeda dengan pengemudi daring. Pengemudi daring berbeda dengan pekerja proyek.

Karena karakter penghasilannya berbeda, pendekatan kepesertaan dan pembayaran iurannya juga perlu semakin fleksibel dan adaptif.

BPJS Ketenagakerjaan Harus Berubah dari Institution Centric Menjadi Worker Centric

Inilah barangkali perubahan yang paling penting. Selama pasar kerja masih didominasi perusahaan formal, pendekatan berbasis institusi cukup efektif. Perusahaan didaftarkan, kemudian seluruh pekerjanya menjadi peserta.

Tetapi ketika pekerjaan semakin individual, fleksibel, digital, dan berpindah-pindah, pusat perhatian harus bergeser kepada pekerja.

Perlindungan harus mengikuti orangnya. Bukan mengikuti tempat kerjanya.

Hari ini seseorang bekerja di perusahaan. Besok menjadi freelancer. Tahun depan membuka usaha sendiri. Beberapa tahun kemudian kembali menjadi pegawai.
Status pekerjaannya boleh berubah, tetapi perlindungan sosialnya seharusnya tidak terputus.

Konsep inilah yang perlu menjadi fondasi jaminan sosial ketenagakerjaan masa depan.

Tantangan BPJS Ketenagakerjaan Bukan Hanya Menambah Peserta

Selama ini keberhasilan sering dilihat dari berapa banyak peserta baru yang berhasil direkrut.

Ukuran tersebut tentu penting. Tetapi ke depan ada ukuran yang mungkin lebih penting: Berapa banyak peserta yang tetap aktif dan terlindungi secara berkelanjutan?
Tidak banyak manfaatnya memiliki jutaan pendaftaran baru apabila beberapa bulan kemudian sebagian besar berhenti membayar iuran.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar acquisition, tetapi juga retention. Bukan hanya bagaimana masyarakat masuk menjadi peserta, tetapi bagaimana mereka tetap menjadi peserta.

Hal tersebut membutuhkan pelayanan yang mudah, manfaat yang dipahami, proses klaim yang sederhana, komunikasi yang kuat, serta kepercayaan publik terhadap institusi.

Pada Akhirnya, Ini Tentang Ketahanan Sosial

Ketika lapangan kerja menyusut, persoalannya tidak berhenti pada meningkatnya angka pengangguran. Ada dampak yang jauh lebih luas. Pendapatan keluarga berkurang. Konsumsi menurun. Kemampuan menabung melemah. Risiko kemiskinan meningkat.

Dan ketika seseorang kehilangan pekerjaan tanpa memiliki perlindungan sosial, seluruh beban akhirnya kembali kepada keluarga dan negara. Karena itu jaminan sosial ketenagakerjaan sebenarnya bukan hanya persoalan pekerja. Ia adalah bagian dari sistem ketahanan ekonomi nasional.

Semakin banyak masyarakat yang terlindungi, semakin kuat kemampuan sebuah negara menghadapi krisis ekonomi dan perubahan pasar kerja. Jangan Sampai Dunia Kerja Berubah Lebih Cepat daripada Sistem Perlindungannya

Lapangan kerja masa depan mungkin tidak akan sama dengan lapangan kerja yang kita kenal hari ini. Sebagian pekerjaan akan hilang. Sebagian berubah. Sebagian pekerjaan baru akan muncul. Orang akan semakin sering berganti pekerjaan, profesi, bahkan sumber penghasilan.

Dalam kondisi seperti itu, BPJS Ketenagakerjaan menghadapi pilihan berat.
Tetap menggunakan pendekatan lama terhadap dunia kerja yang sudah berubah, atau ikut berubah bersama para pekerja.

Tantangan terberatnya bukan semata-mata menghadapi menyusutnya lapangan kerja formal.

Tantangan sebenarnya adalah memastikan bahwa ketika bentuk pekerjaan berubah, perlindungan sosial tidak ikut menghilang.

Di situlah masa depan BPJS Ketenagakerjaan dipertaruhkan. Karena pada akhirnya, yang harus dilindungi bukan jabatan seseorang. Bukan perusahaan tempat ia bekerja. Bukan pula status formal atau informalnya.

Yang harus dilindungi adalah manusianya.

Selama seseorang masih bekerja untuk mempertahankan kehidupan dirinya dan keluarganya, selama itu pula negara perlu memastikan bahwa ia tidak berjalan sendirian menghadapi risiko.

Dan di situlah BPJS Ketenagakerjaan harus hadir.

Medan, 1 Agustus 2026
Silahkan share jika bermanfaat

Avatar photo

Makpi Support

Articles: 1020

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *