Top Three Things – 9 September 2025

Global

Gejolak politik di Argentina, Prancis, Indonesia, dan Jepang menjadi sorotan utama pada Senin. Partai Presiden Argentina, Javier Milei, mengalami kemunduran signifikan dalam pemilu lokal di Buenos Aires, yang mendorong peso melemah ke titik terendah sepanjang sejarah dan memicu jatuhnya pasar saham Argentina. Di Prancis, Perdana Menteri Francois Bayrou kalah dalam pemungutan suara kepercayaan. Sementara itu, Indonesia mengganti Menteri Keuangan dengan Purbaya Yudhi Sadewa. Di Jepang, pasar bersiap menghadapi potensi ketidakstabilan politik berkepanjangan setelah pengunduran diri PM Ishiba. Pada saat yang sama, bursa saham global menguat dan harga emas kembali mencetak rekor tertinggi. Indeks saham utama AS ditutup sedikit lebih tinggi, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak _bull flattening_ seiring menguatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed sebesar 25 bps pekan depan. Di sisi lain, dolar AS melemah secara luas, sedangkan yen sempat tertekan hingga 0,8% terhadap dolar sebelum memangkas hampir seluruh kerugiannya. Dari sisi data, ekspor Jerman turun di luar perkiraan pada Juli akibat melemahnya permintaan dari AS, meskipun produksi industri mencatat hasil lebih baik dari perkiraan. Produksi industri Jerman naik 1,3% MoM (Konsensus: +1,0%), sementara ekspor turun 0,6% (Konsensus: +0,1%). Dari Tiongkok, pertumbuhan ekspor melambat ke level terendah enam bulan, naik 4,4% YoY pada Agustus, seiring meredanya aktivitas _frontloading_ dan berlanjutnya penurunan pengiriman ke AS.

Fokus hari ini

Pasar Asia diperkirakan bergerak hati-hati hari ini. Agenda data ekonomi kawasan mencakup aktivitas manufaktur kuartal II Selandia Baru, indeks kepercayaan konsumen Westpac September dan NAB Business Confidence Australia, pesanan mesin Agustus Jepang, serta data perdagangan Agustus Taiwan. Sore nanti, perhatian pasar akan tertuju pada data produksi manufaktur Juli Prancis dan indeks optimisme usaha kecil NFIB AS untuk Agustus.

Indonesia

Menteri Keuangan Sri Mulyani digantikan dalam reshuffle kabinet pada 8 September oleh Purbaya Yudhi Sadewa, seorang ekonom berpengalaman dengan rekam jejak di sektor publik dan swasta, yang terakhir menjabat sebagai Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Ia mengambil alih posisi di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi, dengan momentum diperkirakan melambat ke 4,7% YoY pada paruh kedua 2025 dari 5,0% pada paruh pertama, serta meningkatnya kekhawatiran fiskal akibat kenaikan belanja untuk program-program unggulan pemerintah. Defisit fiskal 2025 telah direvisi melebar menjadi 2,78% PDB dari perkiraan awal 2,48% PDB. Ke depan, kebijakan fiskal akan menjadi krusial dalam menyeimbangkan persepsi atas agenda ekonomi pemerintah, sehingga peran Purbaya diperkirakan akan menjadi sorotan utama.

Disclaimer ON

Avatar photo

Makpi Support

Articles: 834