Pembaca, edisi hari ini menyajikan beberapa isu yang mengemuka belakangan ini.
MAY DAY, DIANGKUT BUS UNTUK NONTON KONSER
Pada peringatan May Day kemarin terjadi 2 unjuk rasa kelompok buruh dengan mengambil tempat yang berbeda di Jakarta. Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) menggelar unjuk rasa di lapangan Monas. Satu kelompok lainnya, Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (Kasbi), menggelar unjuk rasa di depan Gedung DPR, Senayan.
Kedua kelompok buruh itu memang berseberangan jalan menyangkut sejumlah hal. Kubu Kasbi menyebut kubu yang menggelar aksi di Monas itu sudah dikooptasi pemerintah. Dalam acara unjuk rasa di Monas kemarin yang menjadi “bintang panggung” adalah Presiden Prabowo. Seperti biasa, setiap kali di atas panggung dan di depan massa, Prabowo berpidato berapi-api. Meskipun, saat ia minta buruh menjawab “Apakah MBG bermanfaat atau tidak?”, Buruh menjawab, “Tidaaaak!”.
Sementara arena aksi di DPR jauh dari sorotan. Perwakilan buruh diterima oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Dalam pertemuan tersebut Dasco mengungkapkan, pemerintah sudah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Mitigasi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan Kesejahteraan Buruh. Buruh akan dilibatkan dalam satgas tersebut.
Namun, di ruang berbeda dari unjuk rasa di Monas dan DPR itu, polisi dari Polda Metro Jaya meringkus sebanyak 101 orang. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin menyebut, mereka ditangkap karena diduga akan menyusup ke dalam massa pendemo untuk menyulut rusuh. Penangkapan mereka, konon berdasarkan informasi intelijen.
Masih menurut Iman, dari tangan orang yang ditangkap itu ditemukan sejumlah bukti. Ada rundown acara berisi detail mereka melakukan serangan atau serbuan, datang dari mana, kembalinya di mana. Selain itu, ditemukan dari mereka botol beling yang diduga akan digunakan sebagai molotov, ketapel dan gotri, paku beton, serta sejumlah uang di tangan koordinator lapangan yang akan digunakan untuk membayar orang yang mau melakukan kerusuhan.
Mereka ditangkap polisi sebelum mereka tiba di lokasi unjuk rasa. Sebagian dari mereka disebut berasal dari luar Jakarta. Setelah menjalani pemeriksaan, 101 orang itu sudah dipulangkan, kata Kabid Humas Polda Kombes Pol Budi Hermanto, hari ini. Namun, Polda Metro Jaya masih melakukan pendalaman untuk menemukan aktor utama yang diduga menjadi penyandang dana.
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta yang melakukan pengumpulan bukti atas kasus penangkapan tersebut menemukan hal yang berbeda dengan klaim Polda Metro Jaya. Pengacara Publik LBH Jakarta, Nabil Hafizhurrahman mengungkapkan, sebagian dari orang yang ditangkap itu diarahkan oleh pihak yang diduga aparat polisi untuk menaiki bus dengan dalih menuju sebuah konser. Namun, mereka justru dibawa ke Markas Polda Metro Jaya.
Dari penangkapan tersebut, Polda Metro Jaya berjanji akan menemukan “aktor” penggerak atau otak rencana rusuh. Janji yang sama juga sudah disuarakan oleh Polri ketika menangani kerusuhan dalam demonstrasi Agustus 2025 yang merebak di sejumlah kota, yang menewaskan 12 orang.
Berdasarkan catatan Kontras per Februari 2026, sebanyak 6.719 orang ditangkap dalam peristiwa tersebut. Polri menetapkan 959 orang sebagai tersangka (664 dewasa, 295 anak di bawah umur), terkait kerusuhan. Berdasarkan temuan Komisi Pencari Fakta, sebanyak 703 orang masih ditahan.
Namun, dari semua yang ditangkap dan sebagian sudah diadili, tidak ada satu pun yang bisa dikatakan sebagai aktor intelektual atau otak gerakan rusuh. Jadi otak atau si dalang gerakan itu hanya sekadar pengalihan isu, atau memang ada dan diketahui bersama untuk dimaklumi, dan dilupakan. ()
RUPIAH, ANTARA TEKANAN GEOPOLITIK DAN PENGELOLAAN FISKAL
Bulan April 2026 diakhiri dengan pelemahan rupiah terburuk sepanjang masa. Pada perdagangan Kamis, 30 April 2026, rupiah ditutup melemah 0,36% di Rp 17.353/USD. Hari itu, rupiah bahkan sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di Rp 17.380/USD. Para ekonom melihat faktor eksternal, yakni kembali meningkatnya tensi perang di Timur Tengah, dan keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan sebagai salah satu penyebab.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut nilai tukar rupiah saat ini telah undervalued dibanding fundamentalnya. Seharusnya, kata dia, fundamental rupiah bergerak lebih kuat seiring solidnya kinerja ekonomi domestik. Namun, dampak perang memberi tekanan terhadap rupiah lewat kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, hingga tingginya yield obligasi pemerintah AS, memengaruhi aliran modal global ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, sepakat rupiah sudah jauh di bawah nilai wajarnya yang menurut perkiraannya sekitar Rp 16.500 – Rp 16.800 per USD. Namun ia mengingatkan, rupiah yang undervalued tidak otomatis bisa segera menguat. Sebab, kata dia, pasar saat ini tidak hanya melihat fundamental, tapi juga memperhitungkan risiko. Tekanan terbesar adalah harga minyak yang kembali tinggi, selain ketidakpastian perang Timur Tengah, dan penguatan permintaan terhadap dolar AS.
Setelah Presiden Trump mengungkapkan rencananya untuk memperluas blokade Selat Hormuz, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Juni kembali naik 1,02% ke USD 113,07/barel. Sensitivitas Indonesia yang tinggi terhadap gejolak harga minyak, menimbulkan pertanyaan tentang ketahanan fiskal. Pasar mulai menghitung risiko pelebaran defisit transaksi berjalan dan defisit APBN. Dan, itu terlihat dari defisit per Maret sebesar Rp 240,1 triliun, atau setara 0,93% PDB.
Laporan terbaru S&P Global Ratings menilai kondisi Indonesia paling rentan di antara negara lain di Asia Tenggara, jika konflik Timur Tengah berlangsung lama. Penilaian yang bisa dipahami. S&P melihat dari sensitivitas Indonesia terhadap lonjakan harga minyak global. Kenaikan harga minyak mengharuskan pemerintah untuk meningkatkan anggaran subsidi BBM dan kompensasi energi. Dan, ini akan langsung menekan fiskal.
Josua Pardede melihat, BI masih punya ruang untuk menahan volatilitas rupiah. Tapi, efeknya hanya sementara dan terbatas. Penguatan rupiah yang lebih berkelanjutan, menurut dia, juga membutuhkan dukungan pemerintah melalui disiplin fiskal, pengelolaan subsidi energi, penguatan pasokan valas, dan yang tak kalah penting adalah komunikasi kebijakan yang bisa meyakinkan pasar.
Menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, pasar saat ini membutuhkan kejelasan mengenai target fiskal dan strategi pembiayaan, terutama dalam konteks potensi tekanan dari harga energi dan kebutuhan belanja domestik. Pasar ingin melihat bahwa pemerintah memiliki ruang dan fleksibilitas untuk melakukan penyesuaian tanpa mengorbankan disiplin fiskal.
Sayangnya, sinyal yang disampaikan pemerintah justru membuat kepercayaan investor makin tergerus. Salah satunya adalah kengototan Presiden Prabowo yang akan mempertahankan program-program prioritasnya, bahkan di tengah efisiensi anggaran, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Padahal, banyak pihak menilai program-program tersebut, terutama MBG dengan anggaran fantastis, dinilai berpotensi membebani keuangan negara, meningkatkan defisit, dan memicu utang baru. ()
TRENDING MEDSOS
1. Nama Amien Rais trending di X. Video mantan Ketua MPR pasca-reformasi yang meminta Presiden Prabowo memecat Seskab Teddy Indra Wijaya, viral di media sosial. Ia meminta agar istana dijauhkan dari skandal moral, merujuk dugaan orientasi seksual Teddy.
2. Kata “Tidaaaak” trending di X. Warganet membicarakan pidato Presiden Prabowo di depan massa buruh dalam perayaan May Day, kemarin. Saat itu Prabowo menanyakan apakah MBG (makan bergizi gratis) bermanfaat atau tidak, yang dijawab massa dengan teriakan “Tidaaaak!”
SUMBER
BRIEF UPDATE
Kerjasama MAKPI dengan BDS Alliance
Sabtu, 2 Mei 2026





