Umur Panjang, Prasyarat Bangsa Sejahtera

Salah satu indikator paling penting dari kemajuan suatu bangsa bukan hanya pendapatan per kapita atau pertumbuhan ekonomi, tetapi umur harapan hidup rakyatnya. Sebuah masyarakat pada dasarnya dibangun oleh manusia—dan manusia membutuhkan waktu untuk belajar, tumbuh, produktif, membangun keluarga, hingga menularkan ilmu dan kebudayaan. Karena itu, bangsa dengan umur hidup yang panjang hampir selalu lebih maju dan lebih sejahtera.

Data dunia menunjukkan korelasi yang sangat jelas. Negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Korea Selatan memiliki umur harapan hidup 83–85 tahun. Negara-negara berkembang berada di kisaran 70–75 tahun. Sementara negara-negara miskin, terutama di Afrika Sub-Sahara, masih berkutat di bawah 60 tahun, bahkan ada yang di bawah 50 tahun. Perbedaan 20 tahun ini bukan sekadar angka statistik, melainkan perbedaan modal waktu yang menentukan kemampuan suatu masyarakat membangun kapasitas kolektifnya.

Kesehatan, kemakmuran, dan kesinambungan generasi

Seseorang yang hidup lebih lama memiliki kesempatan lebih besar untuk mengakumulasi kapasitas—mulai dari pendidikan, keterampilan, pengalaman kerja, hingga kecerdasan sosial. Teori pembangunan menyebut ini sebagai human capital accumulation. Investasi negara dalam pendidikan, kesehatan, dan gizi hanya dapat memberikan hasil maksimal bila warga memiliki cukup waktu hidup untuk menuai manfaatnya.

Sebaliknya, masyarakat dengan usia hidup pendek kehilangan kesempatan itu. Bila banyak warga meninggal pada usia 40–50 tahun, maka masa produktivitas mereka hanya sebentar. Banyak potensi yang berhenti sebelum berkembang. Negara kehilangan tenaga terampil, sektor publik kehilangan kader pemimpin, dan keluarga kehilangan penopang ekonominya. Kita berperang dalam jangka panjang dengan tentara yang hanya sempat bertempur dalam jangka pendek.

Umur panjang juga menjadi indikator kualitas tata kelola kehidupan. Pada umumnya, masyarakat dengan umur hidup panjang memiliki layanan kesehatan primer yang kuat, gizi anak yang baik, sanitasi layak, dan pola hidup yang relatif sehat. Semua itu berkorelasi dengan produktivitas dan kemakmuran.

Sebaliknya, masyarakat yang banyak meninggal muda sering berhadapan dengan tiga masalah sekaligus: penyakit menular, gizi buruk, dan akses layanan kesehatan yang terbatas. Dalam banyak kasus ekstrem—dari wilayah Sub-Sahara hingga negara-negara pascakonflik—angka kematian dini bukan hanya mengurangi tenaga kerja produktif, tetapi juga mengancam kesinambungan generasi. Masyarakat kehilangan ibu muda, anak, dan generasi yang seharusnya menjadi penerus bangsa.
Ekonom pembangunan Amartya Sen menyebut kemampuan untuk hidup panjang dan sehat sebagai salah satu bentuk “kebebasan dasar” dalam Development as Freedom. Tanpa umur hidup yang cukup, kedalaman demokrasi, produktivitas ekonomi, dan inovasi sosial semuanya akan terhambat. Bangsa yang kehilangan generasi mudanya tidak dapat mempertahankan kemajuan, apalagi mengejar dunia.

Lebih dari Sekedar Panjang

Perlu ditekankan bahwa umur panjang saja tidak cukup. Yang kita butuhkan adalah umur panjang yang sehat dan produktif (healthy life expectancy). Banyak negara memiliki umur hidup tinggi tetapi dihantui penyakit kronis, beban pembiayaan kesehatan, dan penurunan kualitas hidup pada usia lanjut.

Karena itu, meningkatkan umur hidup harus dibarengi dengan pencegahan penyakit tidak menular (diabetes, hipertensi, jantung), perbaikan gizi, edukasi kesehatan, dan lingkungan hidup yang lebih sehat. Bonus umur tidak boleh menjadi beban sosial, tetapi menjadi modal bagi produktivitas dan kebijaksanaan publik.

Indonesia telah mencatat peningkatan umur harapan hidup yang sangat signifikan: dari sekitar 52 tahun pada awal 1970-an. Pada tahun 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata usia harapan hidup (UHH) penduduk di Indonesia meningkat dari yang semula 72,13 tahun (sekitar 72 tahun 1 bulan 17 hari) pada tahun 2023, menjadi 72,39 tahun (sekitar 72 tahun 4 bulan 20 hari).

Namun, data Kementerian Kesehatan menunjukkan, 63,5 persen lansia mengalami hipertensi. Selain itu, 14,06 persen lansia mengalami obesitas, 5,7 persen dengan diabetes melitus, 5,6 persen mengalami pneumonia, 4,5 persen dengan penyakit jantung, dan 4,4 persen dengan stroke. Selain masalah penyakit fisik, sebagian lansia juga ditemukan dengan gangguan mental dan kognitif. Sebanyak 12,8 persen lansia mengalami gangguan mental emosional. Bahkan, pada 2015 dilaporkan sebanyak 1,2 juta lansia mengalami demensia.

Indonesia mengalami peningkatan Proporsi jumlah penduduk lansia dari 7,56 persen pada tahun 2010, menjadi 9,7 persen pada tahun 2019, pada 2023 menjadi 11,75 persen, pada tahun 2035 menjadi 15,77%, persen, dan pada 2045, diperkirakan mencapai 20 persen dari total penduduk. Masalahnya, umur panjang dengan ketidak-produktifan dan/atau kesakitan memberi beban baru bagi negara. Bahkan, pada saat ini diketahui pembiayaan kesehatan lansia mencapai 24 persen dari total pembiayaan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional.

Tantangan kita kini adalah mencegah stagnasi. Beban penyakit tidak menular, gizi buruk kronis, dan kualitas lingkungan kota yang menurun dapat menjadi rem bagi kemajuan tersebut. Bila umur hidup tidak bertambah atau tidak sehat, maka target Indonesia Emas 2045 makin tidak mudah dicapai.

Karena itu, memperpanjang dan menyehatkan umur hidup rakyat harus menjadi agenda kebijakan nasional yang eksplisit dan terukur. Prioritas utama mencakup memperkuat layanan kesehatan primer, memperbaiki gizi anak dan ibu, memperluas pencegahan penyakit kronis, membangun lingkungan yang sehat dan ramah keluarga, dan memperkuat perlindungan sosial bagi usia lanjut.

Pembelajaran

Bangsa besar dibangun oleh manusia yang memiliki waktu panjang untuk tumbuh menjadi besar. Sebaliknya, bangsa yang rakyatnya hidup pendek akan selalu kekurangan waktu, kapasitas, dan kesinambungan. Meningkatkan umur panjang—dan memastikan kesehatan di dalamnya—adalah strategi pembangunan yang paling fundamental dari semuanya.

Avatar photo

Riant Nugroho

Ketua Umum Masyarakat Kebijakan Publik Indonesia

Articles: 68