Beberapa tahun yang lalu, saya bekerja di sebuah institusi pemerintahan kecil di pinggir kota. Di tempat itu, segala sesuatu masih dilakukan secara manual. Berkas-berkas menumpuk, tanda tangan harus dilakukan dengan tinta, dan pelayanan publik… lambat. Terlalu lambat.
Saya mulai bertanya-tanya—bukankah teknologi seharusnya membantu kita? Bukankah dunia sudah bergerak ke arah digital?
Itulah awal perjalanan saya mengenal Digital Governance, atau Tata Kelola Digital.
Digital Governance bukan sekadar memindahkan kertas ke layar. Ia adalah transformasi menyeluruh tentang bagaimana pemerintah bekerja, melayani, dan mengambil keputusan dengan bantuan teknologi digital. Transparansi, efisiensi, dan partisipasi—itulah tiga kata kunci yang saya pelajari.
Saya ingat ketika sistem e-budgeting pertama kali diterapkan di kota kami. Awalnya, banyak yang menolak. Tapi perlahan, kami melihat keajaiban: data menjadi terbuka, keputusan bisa dilacak, dan masyarakat… mulai percaya lagi.
Digital Governance bukan hal yang mudah. Ia menuntut perubahan budaya, sistem, bahkan cara berpikir. Tapi ia juga membawa harapan. Harapan bahwa pelayanan publik bisa lebih cepat. Lebih adil. Dan lebih inklusif.
Hari ini, ketika saya melihat anak-anak muda di balai kota dengan laptop mereka, mengembangkan dashboard layanan publik, saya tahu—kita berada di jalur yang benar.
Saya, Suriant, percaya bahwa teknologi hanyalah alat. Tapi di tangan yang tepat, ia bisa menjadi jembatan menuju pemerintahan yang lebih baik.
Digital Governance bukan masa depan. Ia adalah hari ini.