Top Three Things – 23 Oktober 2024

Global

Sentimen risk-off berlaku selama sesi perdagangan AS. Pasar saham AS ditutup beragam (S&P: -0,05%; NASDAQ: +0,18; Dow: -0,02%), sementara indeks DXY terus naik seiring dengan imbal hasil UST. Harga emas juga mengakhiri sesi lebih tinggi. Kemarin hanya terdapat sedikit katalis dari segi data ekonomi, sehingga sentimen pasar tampaknya masih dipengaruhi oleh hari sebelumnya dan tertuju pada risiko pemilu AS. Rilis data semalam sebagian besar merupakan indikator sentimen. Indeks aktivitas Non-Manufaktur Fed Philly untuk bulan Oktober lebih tinggi dari perkiraan sebesar 6,0 dari -6,1 pada bulan September (Konsensus: 4,1) sedangkan indeks manufaktur Fed Richmond adalah -14 dari -21 pada bulan September (Konsensus: -17). Presiden Fed Philly Harker berbicara semalam tetapi tidak mendiskusikan kebijakan moneter. Di Eropa, Rehn dari ECB mencatat bahwa pertumbuhan kawasan Eropa diperkirakan akan lemah, sementara kecepatan dan cakupan penurunan suku bunga akan bergantung pada prospek inflasi. IMF merilis Outlook Ekonomi Dunia pada hari Selasa dan menurunkan perkiraan pertumbuhan global menjadi 3,2% YoY untuk tahun 2025 dari sebelumnya 3,3%. Mereka mempertahankan perkiraan PDB tahun 2024 tidak berubah di angka 3,2%. Sementara itu, inflasi diperkirakan akan turun menjadi 4,3% pada tahun 2025 dari 5,8% pada tahun 2024. Secara khusus, IMF mencatat bahwa proteksionisme perdagangan (ketidakpastian terkait tarif dan perdagangan) berpotensi menurunkan kegiatan produksi sebesar 0,8% pada tahun depan dan 1,3% pada tahun 2026.

Fokus hari ini

Data ekonomi hari ini mencakup inflasi Singapura bulan September yang diperkirakan akan turun menjadi 1,9% YoY dari 2,2% di bulan Agustus dan inflasi inti akan turun menjadi 2,6% dari 2,7% di bulan Agustus. Keyakinan konsumen awal bulan Oktober di Uni Eropa dan pengajuann KPR mingguan di AS serta penjualan rumah untuk bulan September dijadwalkan untuk dirilis. Bank sentral Kanada juga akan mengadakan pertemuan moneternya hari ini, dan konsensus memperkirakan penurunan sebesar 50bp. Lane, Lagarde dan Cipollone dari ECB akan berbicara malam ini, begitu pula Bowman dari Fed.

Badan investasi baru

Presiden Prabowo Subianto berencana membentuk badan investasi baru, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, yang dirancang untuk mengkonsolidasikan investasi negara, mirip seperti Temasek Singapura, menurut laporan dari Antara. Pembentukan badan tersebut menunggu persetujuan parlemen dan akan mencakup konsultasi dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara dan Otoritas Investasi Indonesia. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan kepemilikan pemerintah di berbagai sektor, seperti perbankan dan pertambangan, agar dapat meningkatkan leverage dan mengoptimalkan investasi.

Disclaimer ON

Avatar photo

Makpi Support

Articles: 507