HUKUM
Pagi-pagi benar, sekitar pukul 03.40, hari ini puluhan orang berseragam militer dan berpakaian sipil mendatangi Markas Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) di Jl Sudirman. Beberapa kendaraan dinas tentara juga mondar-mandir. Sejumlah petinggi TNI dan Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI juga terlihat di markas polisi Jakarta itu.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Brigjen TNI Muhammad Nas membantah informasi kehadiran puluhan tentara itu di Polda, termasuk menampik kabar yang menyebut para tentara itu datang untuk menjemput saksi yang sedang diperiksa.
Namun, Nas mengakui bahwa prajurit TNI menjaga rumah Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, di Jalan Radio 1 Kramat Pela, Jaksel, pada Rabu malam kemarin, atas permintaan Kejaksaan Agung.
Penjagaan ketat personel TNI bersenjata di rumah Jampidsus Febrie Adriansyah kemarin itu berbarengan dengan gerak penyidikan dari Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri dan Polda Metro Jaya. Kesatuan polisi ini tengah menangani 3 kasus besar bersamaan, dan kemarin melakukan penggeledahan di 12 lokasi.
Tiga perkara yang diusut meliputi dugaan korupsi pada pasokan batubara ke PLN yang menyebabkan mati listrik se-Sumatera pada akhir Mei lalu. Perkara lainnya adalah pengelolaan PT Asabri periode 2020-2025, serta dugaan korupsi dalam proses penyelesaian utang PT Catur Bangun Sarana (CBS) kepada PT Krakatau Niaga Indonesia (KNI) pada periode 2020-2025.
Pada penggeledahan di resto elite Cafe De’Clan Signature di Cipete, Jaksel, serta Koin Money Changer yang berada di samping resto itu. Di resto tersebut polisi menemukan brankas tersembunyi berisi lembaran duit rupiah, dolar AS, dan dolar singapura, dengan nilai total sekitar Rp 60 miliar. Febrie Adriansyah kerap sarapan di resto ini.
Di sebuah rumah mentereng di kawasan Sentul, Bogor, Jabar, polisi menemukan brankas besar tersembunyi. Isinya, 7 koper. Di dalam koper ada emas batangan dengan total berat 74 kilogram. Ada pula lembaran dolar AS sekitar 4,7 juta, dolar Singapura 14 juta, serta uang rupiah. Total jenderal isi brankas itu, menurut polisi, sekitar Rp 476 miliar.
Tak berselang lama di media sosial beredar foto yang menampilkan Febrie Adriansyah bersama keluarganya berada di rumah berisi brankas itu. Kepala Kortastipidkor Polri Irjen Pol Totok Suharyanto belum dapat memastikan kebenaran informasi yang beredar di medsos tersebut.
EKONOMI
1. Bank Indonesia (BI) melaporkan, pada Mei 2026 penjualan eceran mengalami kontraksi, baik secara bulanan (mtm) maupun tahunan (yoy). Kondisi serupa diperkirakan juga terjadi pada Juni. Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei sebesar 223,4. Turun 3,9% (yoy) dan lebih dalam ketimbang kontraksi April yang 3,7% (yoy).
Secara bulanan (mtm), penjualan eceran Mei turun -1,5%. Namun, penurunannya lebih baik ketimbang April yang terkontraksi 11,6% (mtm). Sejumlah kelompok masih masih berada dalam fase kontraksi, terutama makanan, minuman, dan tembakau yang terkontraksi 4,1% (yoy), lebih dalam ketimbang April yang terkontraksi 3,8%.
Untuk Juni, BI memperkirakan IPR berada di 221,6, turun 4,4% (yoy). Secara bulanan, kinerja penjualan eceran Juni diproyeksikan turun 0,8% (mtm), lebih baik dibanding Mei yang turun 1,5% (mtm). Perbaikan didorong meningkatnya kinerja kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya dan subkelompok sandang seiring mulai periode liburan sekolah.
Dari sisi harga, tekanan inflasi pada Agustus diprakirakan meningkat, sementara November relatif stabil. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Agustus sebesar 178, lebih tinggi dibandingkan Juli sebesar 175,8, didorong oleh kenaikan harga bahan baku. Sementara, IEH November diprakirakan sebesar 167,5, relatif stabil dibanding Oktober sebesar 167,6.
2. Dirut Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, merespons kekecewaan pengelola gerai Kopdes Merah Putih yang memicu penghentian operasional kopdes. Ia menegaskan, kesejahteraan personel adalah prioritas utama perusahaan. Agrinas tengah mengevaluasi seluruh sistem selama sepekan terakhir. Dikatakan, saat ini 1.061 gerai telah beroperasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan lebih 80.000 unit gerai dan gudang terus dibangun.
Sebelumnya, media sosial dihebohkan pengelola Kopdes Merah Putih yang kecewa terhadap sistem pengelolaan dan pengupahan yang dijalankan Agrinas. Kekecewaan dipicu upah yang tak seperti dijanjikan. Akibatnya, sekitar 80%-85% gerai Kopdes Merah Putih di Bojonegoro berhenti serentak pada 3 Juli. Kepala Desa Campurejo, Edi Susanto mengatakan, para pekerja yang sebelumnya dijanjikan gaji Rp 1,2-Rp 1,4 juta/bulan, ternyata hanya menerima Rp 76 ribu.
3. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Efek Indonesia (BEI) Irvan Susandy mengatakan, ada potensi outflow dana asing sekitar USD 150-200 juta atau Rp 3,5-4 triliun, imbas S&P Dow Jones Indices membuka peluang status Indonesia turun dari emerging market ke frontier market.
Menurut dia, itu masih estimasi awal. BEI masih menghitung lebih rinci potensi outflow itu. Namun, outflow tidak langsung terjadi, karena S&P DJI masih memberikan waktu Indonesia melakukan pembenahan.
Penyedia indeks global S&P DJI, kemarin memasukkan Indonesia ke dalam watchlist untuk tinjauan 2027. Saat ini status Indonesia masih emerging market. Namun, S&P DJI membuka opsi untuk menerapkan perlakuan khusus bagi saham Indonesia, dengan potensi reklasifikasi menjadi frontier market jika persoalan transparansi dan likuiditas pasar belum terealisasikan.
POLITIK
Peraturan Presiden (Perpres) No. 111/2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara 2025-2029 sudah diteken Presiden Prabowo pada Oktober 2025. Publik tidak ada reaksi, pun kalangan DPR.
Tapi, beberapa waktu belakangan ini ada bagian dari perpres itu yang menyeruak ke publik. Yakni, klausul “penyebaran budaya Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, and Queer (LGBTQ)” masuk kategori ancaman negara nonmiliter, selevel dengan terorisme, separatisme dan kejahatan luar biasa lainnya.
Gayung bersambut. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadikan Perpres itu untuk menggencarkan pengadaan UU yang menetapkan LGBTQ sebagai kejahatan yang layak dihukum oleh negara. Bahkan Pemda Jawa Barat, sebagaimana dikatakan Wagub Erwan Setiawan, sudah menyiapkan sistem pelaporan untuk menindak LGBTQ.
Menurut dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Joeni A Kurniawan, peraturan yang diteken Presiden Prabowo itu berpotensi melanggar bertentangan dengan undang-undang yang menjadi dasar pembentukan Perpres serta prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM).
Aktivis minoritas gender dan seksual, Echa Waode, menduga isu Perpres itu sengaja diungkit untuk mengalihkan perhatian publik dari kemarahan terhadap pemerintah. Dari benturan bersifat vertikal, rakyat terhadap pemerintah, kata Echa, dialihkan ke benturan horizontal, rakyat dengan rakyat.
TRENDING MEDSOS
1. Kata-kata “Cicak vs Buaya”, “Perang”, “TPPU”, dan “Cipete” trending di X, dan semua media sosial di Indonesia. Hari ini percakapan di semua media sosial fokus pada penggeledahan 12 tempat terkait dugaan korupsi yang melibatkan Jampidsus Kejagung Febrie Adriansyah. Pembicaraan terutama mengenai pengerahan TNI menjaga rumah Febrie, dan kedatangan puluhan TNI yang dipimpin 2 jenderal ke Ditreskrimsus Polda Metro Jaya untuk meminta pembebasan saksi.
2. Kata-kata “Febrie Adriansyah” menjadi kata paling dicari di Google, dengan lebih 100.000 pencarian. Selain itu, “74 kg emas berapa rupiah” juga masuk daftar Google Trends dengan lebih 5.000 pencarian. Dalam penggeledahan di satu rumah yang diduga milik Jampidsus Febrie Adriansyah di Sentul, Kortastipidkor Polri membawa uang ratusan miliar dan 74 kg emas.
HIGHLIGHTS
1. Publik mendapat suguhan drama yang boleh dikata seru kemarin dan hari ini. Ada “cinta-benci” segitiga: Kejagung, Polri dan TNI. Pangkal perkara masih samar-samar, yang menyulut aneka spekulasi. Sebagaimana yang pernah terjadi pada Agustus 2025.
Apa boleh buat, mengingat dalam penanganan kasus-kasus korupsi besar selalu menyisakan pertanyaan, drama kali ini pun memunculkan aneka skenario dari publik.
Kata spekulan, ini gara-gara Kejagung menangkap maling di proyek MBG dari unsur polisi. Spekulan lain bilang, Kejagung mengusik proyek bos polisi. Namanya spekulasi, sah-sah saja.
2. Data penjualan eceran yang dirilis BI hari ini masih menunjukkan tren penurunan. Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei terkontraksi 3,9% (yoy), lebih dalam dari kontraksi kontraksi April yang 3,7% (yoy). Secara bulanan, penjualan eceran pun masih melemah 1,5% (mtm), meski lebih baik daripada kontraksi April yang 11,6% (mtm).
Pada Juni diperkirakan IPR berada di 221,6, turun 4,4% (yoy) dan turun 0,8% (mtm). Tren penurunan ini menunjukkan, kondisi riil masyarakat masih tertekan.
Dicermati lebih dalam, kelompok makanan, minuman, dan tembakau, mengalami terkontraksi 4,1% (yoy) lebih dalam dari kontraksi April yang 3,8% (yoy). Data ini cukup mengkhawatirkan, karena mengindikasikan tekanan daya beli sudah terasa hingga kebutuhan pokok masyarakat. Tak hanya pada kebutuhan-kebutuhan yang lebih sekunder.
3. Di tengah riuh pertarungan antarlembaga penegak hukum yang menyita perhatian publik, data ekonomi justru mengirimkan sinyal yang tak kalah penting: daya beli masyarakat masih belum pulih. Kontraksi penjualan eceran yang terus berlanjut, bahkan semakin dalam pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, menunjukkan tekanan ekonomi kini telah menjangkau kebutuhan yang paling mendasar. Ketika konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan mulai melemah, perlambatan ekonomi tidak lagi sekadar persoalan sektor tertentu, melainkan mulai menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pada saat yang sama, ancaman penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontier market mengingatkan bahwa persoalan transparansi, likuiditas, dan kredibilitas tata kelola semakin diperhatikan oleh investor global. Bahkan gejolak di Kopdes Merah Putih menunjukkan bahwa keberhasilan program besar tidak hanya ditentukan oleh ambisi dan skala, tetapi juga oleh kualitas implementasi di lapangan.
Meski demikian, masih ada secercah ruang optimisme. Kontraksi bulanan penjualan mulai melambat dan Indonesia masih memiliki waktu untuk melakukan pembenahan sebelum evaluasi pasar global berikutnya.
Namun, waktu tidak banyak. Pemulihan kepercayaan, baik dari masyarakat maupun pelaku usaha, kini tampak jauh lebih mendesak daripada sekadar menjaga angka pertumbuhan tetap terlihat baik di atas kertas.
SUMBER
BRIEF UPDATE
Kerjasama MAKPI dengan BDS Alliance
Kamis, 9 Juli 2026





