Beberapa tahun terakhir, saya menyaksikan dunia berubah lebih cepat dari yang bisa saya bayangkan. Mobil mulai menyetir sendiri. Chatbot bisa menulis puisi. Dan algoritma—ya, algoritma—mulai menentukan banyak hal dalam hidup kita: dari pekerjaan yang kita lamar, hingga berita yang kita baca.
Saya mulai bertanya-tanya: Siapa yang mengendalikan algoritma ini?
Siapa yang mengatur kecerdasan buatan yang kini makin cerdas, makin cepat, makin dalam masuk ke ruang privat kita?
Jawabannya: AI Governance.
AI Governance bukan hanya soal teknologi. Ini soal tanggung jawab. Soal etika. Soal bagaimana kita membangun aturan, nilai, dan mekanisme pengawasan terhadap sistem-sistem pintar yang kita ciptakan.
Saya pernah duduk dalam satu diskusi publik tentang penggunaan AI di sektor publik. Seorang warga bertanya, “Bagaimana jika algoritma ini bias?”
Pertanyaan itu menghantam saya. Karena benar—AI belajar dari data. Dan data bisa salah. Bisa tidak adil. Bisa berat sebelah.
Di sinilah pentingnya AI Governance. Kita tidak bisa menyerahkan masa depan ke tangan mesin tanpa arahan. Tanpa prinsip.
AI harus dapat diawasi.
Harus dapat dipertanggungjawabkan.
Dan yang paling penting: harus dirancang untuk manusia, bukan sebaliknya.
Hari ini, saya bekerja bersama tim lintas disiplin: insinyur, pembuat kebijakan, aktivis, bahkan seniman. Kami mencoba menjawab pertanyaan besar: Bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan secara adil dan aman?
Jawabannya tidak sederhana. Tapi saya percaya, ketika teknologi berkembang, maka tata kelola pun harus ikut tumbuh.
Saya, percaya bahwa masa depan bukan hanya soal seberapa pintar AI kita…
Tapi seberapa bijak kita mengaturnya.
Ini bukan lagi pertanyaan teknis. Ini soal nilai.
Dan kita semua—ya, kita—punya peran di dalamnya.
Apakah Anda siap membentuk masa depan yang tidak hanya cerdas… tapi juga adil?