Global
Data ekonomi Amerika Serikat semalam menunjukkan gambaran pasar tenaga kerja yang relatif lebih tangguh. Jumlah rencana pemutusan hubungan kerja (Challenger job cuts) turun 8,3% YoY pada Desember, membaik dari penurunan 23,5% YoY pada November. Perusahaan mengumumkan 35.553 PHK, jauh lebih rendah dibandingkan 71.321 pada November dan menjadi yang terendah sejak Juli 2024. Dalam rilis resminya disebutkan bahwa meskipun Desember biasanya merupakan periode yang relatif sepi, penurunan PHK yang disertai dengan meningkatnya rencana perekrutan merupakan sinyal positif setelah satu tahun yang ditandai oleh rencana PHK yang tinggi. Pada Desember, perusahaan berencana merekrut 10.496 pekerja, tertinggi sejak Desember 2022. Indeks dolar AS (DXY) menguat, sementara pasar saham AS bergerak dalam rentang terbatas (S&P: +0,01%; Nasdaq: −0,44%; Dow: +0,55%). Imbal hasil obligasi pemerintah AS (UST) naik sepanjang sesi, namun ditutup di bawah level tertinggi intraday. Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa ia menginstruksikan Fannie Mae dan Freddie Mac untuk membeli obligasi hipotek senilai USD200 miliar. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa penentuan pengganti Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve dapat dilakukan bulan ini, dengan kandidat yang masih dipertimbangkan antara lain Direktur National Economic Council Kevin Hassett, mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh, Gubernur The Fed saat ini Christopher Waller, serta eksekutif BlackRock Inc., Rick Rieder. Selain itu, terdapat potensi putusan dari Mahkamah Agung AS terkait tarif Presiden Trump yang diberlakukan berdasarkan International Emergency Economic Powers Act. Berdasarkan dokumen pengadilan yang dilaporkan Bloomberg, otoritas bea cukai AS telah memungut tarif terkait penggunaan undang-undang darurat tersebut dari lebih dari 301 ribu importir atas sekitar 34 juta jenis barang yang masuk ke AS hingga 10 Desember 2025. Di pasar komoditas, harga minyak global menguat, dengan Brent ditutup di USD61,99 per barel.
Fokus hari ini
data ekonomi hari ini mencakup rilis inflasi konsumen (CPI) dan produsen (PPI) Tiongkok untuk Desember, produksi industri Malaysia bulan November, produksi industri dan neraca perdagangan Jerman bulan November, penjualan ritel kawasan euro bulan November, serta data nonfarm payroll AS untuk Desember yang menjadi perhatian utama pasar. Selain itu, pejabat bank sentral, termasuk Kashkari dari The Fed dan Lane dari ECB, dijadwalkan menyampaikan pernyataan hari ini.
Indonesia
Defisit fiskal Indonesia melebar menjadi 2,9% dari PDB pada 2025, naik dari 2,3% PDB pada 2024, melampaui target pemerintah sebesar 2,78% PDB dan mendekati batas maksimum defisit fiskal yang ditetapkan undang-undang sebesar 3% PDB. Pelebaran defisit tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan penerimaan negara yang lebih lemah (IDR2.756,3 triliun; −3,3% YoY dan 96,2% dari target anggaran), meskipun realisasi belanja negara (IDR3.451,4 triliun; +2,7% YoY dan 97,8% dari target anggaran) juga berada di bawah target tahunan. Untuk 2026, target defisit fiskal ditetapkan sebesar 2,68% PDB, yang pencapaiannya akan sangat bergantung pada peningkatan mobilisasi pendapatan di tengah tingkat belanja yang masih tinggi. Kami tidak menutup kemungkinan adanya risiko pelebaran defisit lebih lanjut. Dengan dorongan fiskal yang diperkirakan bersifat kontraktif hingga netral, beban untuk menopang pertumbuhan ekonomi akan lebih banyak bertumpu pada kebijakan moneter. Namun demikian, Bank Indonesia perlu bersikap oportunistis dalam mencari waktu dan ruang yang tepat untuk memangkas suku bunga tahun ini, mengingat tekanan depresiasi nilai tukar rupiah.
Disclaimer ON





