Global
Kekhawatiran mengenai terjadinya perang dagang global terwujud setelah Presiden Trump mengonfirmasi bahwa tarif terhadap Meksiko dan Kanada akan diberlakukan sepenuhnya pada hari Selasa, serta menandatangani perintah untuk menaikkan tarif terhadap Tiongkok menjadi 20%. Selain headline mengenai tarif, pasar juga sedang mencerna laporan manufaktur ISM AS yang lebih lemah dari perkiraan dengan angka 50,3 (dibandingkan konsensus 50,6), sementara model Q1 GDP Atlanta Fed Nowcast direvisi turun menjadi -2,8% (dari 2,3% minggu lalu). Laporan PMI manufaktur menunjukkan permintaan yang melemah, dengan indeks pesanan baru kembali masuk ke wilayah kontraksi. Produksi stabil, namun indeks ketenagakerjaan turun ke zona kontraksi. Indeks saham AS jatuh hingga 2,6% karena tanda-tanda kelemahan ekonomi yang berlanjut. Imbal hasil UST turun sementara USD melemah. Euro dan imbal hasil zona euro naik karena harapan belanja fiskal dan data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan. Inflasi di zona euro mereda menjadi 2,4% YoY pada Februari, turun dari 2,5% YoY pada Januari namun masih di atas estimasi pasar sebesar 2,3%. Selain itu, berita bahwa OPEC+ berencana untuk menambah produksi sekitar 140 ribu barel pada bulan April membuat harga minyak turun.
Fokus hari ini
Pasar Asia diperkirakan akan dibuka dengan pelemahan, sambil menunggu pembukaan Two Sessions China dan pengumuman tarif balasan, serta risalah rapat RBA pada bulan Februari. Kalender data ekonomi hari ini mencakup tingkat pengangguran Jepang pada Januari (2,5%), basis moneter Februari (-1,8% YoY) dan indeks kepercayaan konsumen Februari, serta izin bangunan Selandia Baru (+2,6% MoM), penjualan ritel Australia pada Januari (+0,3% MoM) dan neraca transaksi berjalan 4Q24 (A$12,5 miliar). Malam nanti, perhatian pasar akan beralih ke tingkat pengangguran zona euro pada bulan Januari.
Inflasi Indonesia berada pada level -0,1% YoY di bulan Februari dari 0,8% YoY pada bulan Januari (Konsensus & OCBC: 0,6%).
Cetak inflasi kali ini sebagian besar masih dipengaruhi oleh diskon 50% pada harga utilitas untuk bulan Januari dan Februari. Jika tidak memperhitungkan utilitas (dengan bobot sebesar 16,4% terhadap inflasi), inflasi akan berada pada level 2,2% YoY di bulan Februari dari 2,4% YoY di bulan Januari. Dengan demikian, inflasi yang terkendali mendukung kemungkinan adanya pemangkasan suku bunga sebesar 25bps lagi dari Bank Indonesia (BI), meskipun dari pemangkasan tersebut akan bergantung pada nilai tukar IDR. Menurut grup kami, pemangkasan suku bunga lebih menguntungkan bagi BI (dan bank sentral ASEAN lainnya seperti BoT) karena kebijakan tarif AS untuk ASEAN masih dalam pertimbangan dan belum diumumkan.
Disclaimer ON